Beberapa pelajaran hidup

Berikut ini beberapa pelajaran hidup yang aku dapatkan selama berada di Taiwan :

Kalau mau indah, ambil kulitnya saja

Segala sesuatu akan tampak (dan memang) menyenangkan dan indah jika kita berada di kulitnya saja. Misalnya, hubungan dengan seseorang. Hubungan anda akan terasa sangat indah, dan anda akan berpikir sangat positif terhadap orang itu, jika anda hanya sekedar berbasa-basi saja dengan dia. Misalnya sekedar say hello, basa-basi yang asal bapak senang, dsb. Begitu anda masuk lebih dalam lagi, hilanglah keindahannya. Hal ini juga berlaku terhadap barang, organisasi, atau apapun juga.

Mengomentari/mengedit/mengover-rule/mencela apa yang dilakukan orang lain lebih mudah dibanding kita sendiri membuat sesuatu yang baru

Ambil contoh, kita sama2 engga bisa bahasa mandarin, sama2 sedang belajar mandarin di Taiwan. Akan lebih mudah/nyaman/gengsi/gagah kalau teman kita mencoba bercakap2 dalam bahasa mandarin dengan orang Taiwan, terus dia melakukan kesalahan dalam percakapan itu (salah make bahasa), trus kita mengomentari kesalahannya. Tapi kalau kita sendiri disuruh memulai percakapan, belum tentu kita bisa/berani. Ini juga berlaku dalam hampir semua aspek kehidupan. Mengomentari dan mencela apa yang dilakukan orang lain selalu lebih mudah/gengsi dibanding melakukannya/memulainya sendiri.

Apa yang dilakukan manusia, selalu untuk kepentingannya sendiri

Ini benar adanya. Kalau kita periksa lagi diri kita, semua tutur kata, komentar, tindakan, dan pikiran kita ternyata berfokus pada kepentingan diri kita sendiri. Kita mungkin mengorbankan sesuatu, tetapi apa yang kita dapatkan dari pengorbanan itu jauh lebih besar dari yang kita korbankan. Misalnya, kita memberi sumbangan. Kita mendapatkan pujian dari orang lain, minimal orang akan berkata “dia orang yang baik”. Memang sejak lahir, manusia distimulasi oleh lingkungannya untuk lebih memikirkan dirinya sendiri atau untuk survive. Kasus seperti Mother Theressa yang tidak mempedulikan dirinya sendiri dan berkorban untuk lingkungannya adalah satu berbanding miliaran.

Manusia melihat segala sesuatu dari kacamatanya sendiri, untuk kepentingannya sendiri, dan untuk membenarkan dirinya sendiri

Ini benar adanya. Tidak perlu dijelaskan lebih lanjut. Tidak ada fakta yang bisa menyangkalnya.

Manusia itu pada dasarnya sama

Ambil contoh, si Joni mau beli mobil yang cocok dengan kondisinya (ya kondisi ekonomi, kebutuhannya akan transportasi, ya cocok dengan gengsinya, dsb). AKhirnya setelah timbang sana-sini, dia memutuskan untuk membeli suzuki carry tahun 1986 seharga 22 juta. Joni girang bukan kepalang, dan begitu puas. Ya, karena apa yang dia beli sesuai dengan kesanggupannya, kebutuhannya, dan juga gengsinya. Namun apa yang dirasakan Joni, tidak dirasakan oleh Johan. Bagi Johan, carry adalah mobil yang engga nyaman, engga aman (engga ada hidungnya), dan engga gengsi. Johan lebih memilih Mercedes New Eyes tahun 2003 sebagai mobil idamannya. Saat Johan membeli mobil idamannya, dia merasakan hal yang sama seperti Joni, yaitu puas dan girang.

Apa yang membedakannya ? Tidak ada, alias sama. Perasaan yang dirasakan keduanya adalah sama. Apakah Johan rugi karena mengeluarkan duit lebih banyak ? Tidak. Joni mengeluarkan uang sesuai dengan kesanggupannya, Johan juga. Joni puas dengan pilihannya, Johan juga. Joni bangga dengan mobilnya, Johan juga. Namun jika Johan disuruh menggunakan mobil Joni, dan sebaliknya, Joni menggunakan mobil Johan, keduanya akan sama2 komplain. Joni akan berkata “mobil Mercedes ini mahal perawatannya, bensinnya, pajaknya, sparepartnya, engga sebanding dengan kenyamanannya yang cuma sesaat”. Sedangkan Johan akan berkata “mobil Carry ini benar2 tidak nyaman, panas, engga aman, sama sekali engga gengsi. Sakit perut aku dibuatnya”. So, kesimpulannya, manusia ini sama. Masing2 punya peran dan bagiannya sendiri2. Ga ada yang lebih tinggi, ga ada yang lebih rendah.

Ga cuma soal mobil, segala hal, termasuk pekerjaan, jabatan, harta, dan sebagainya. Ga salah Alkitab memuat ilustrasi tentang hamba yang satu diberi 5 talenta, hamba yang lain diberi 2 talenta. Imbalannya sama persis. Ga ada yang lebih, ga ada yang kurang.

Manusia itu lebih percaya pada apa yang didengarnya/dilihatnya pertama kali, baik itu benar ataupun salah

Jika dua orang berselisih, anggap saja si Dewa dan Dewi, siapapun yang menceritakan tentang kasusnya kepada anda, anda akan memandang kasus itu sesuai dengan apa yang diceritakan orang pertama kepada anda. Misalnya kenyataannya Dewi menipu Dewa. Namun Dewi bercerita kepada anda, bahwa Dewalah yang menipunya, maka akan sangat sulit merubah pandangan anda tentang Dewa, walaupun Dewilah yang bersalah. Itu berlaku bagi setiap orang, diakui atau tidak. Oleh para ahli psikologi, itu dinamakan “Hello effect”.

Anda bertemu seseorang, dan kesan pertama anda, orang itu adalah jahat. Maka sekalipun waktu berjalan, dan fakta menunjukkan bahwa orang itu tidaklah jahat, anda akan tetap ga nyaman jika berurusan dengan dia. Iya kan ? Sebaliknya, jika kesan pertama yang anda dapatkan, orang ini baik. Maka, walaupun akhirnya terbukti kalau orang itu adalah penipu ulung, anda masih akan membela dia ” engga mungkin. Aku mengenalnya tidak seperti itu kok”.

Oleh para ahli marketing, fakta ini dikembangkan menjadi “parenting marketing”. Seorang ibu yang suka menggunakan bedak X, si anak perempuannya akan melihat, bahwa bedak X adalah yang terbaik. Buktinya, ibunya memakainya bertahun2. Setelah anak putri itu dewasa, dia akan menggunakan bedak X juga seperti ibunya. Jika seorang ayah berkata, mobil Z ini jelek. Maka, anak2nya juga akan menganggap mobil Z adalah jelek. Setelah anak2 itu dewasa, mereka tidak akan membeli mobil Z. Itu adalah “parenting marketing”. Dan ilmu itu diadopsi dari apa yang aku paparkan di atas.

Hutang budi, bisa2 dibayar dengan body

Kata2 itu yang aku baca dari sebuah forum. Kalau dipikir2 lagi, ada benarnya juga. Hutang bisa menjerat kita, dan membuat hidup kita menjadi tak terbayangkan. Maka dari itu, sebisa mungkin kita jangan berhutang. Berhutang apapun, termasuk berhutang kebaikan. Di sisi lain, sebagai anak2 Tuhan, kita tidak boleh melakukan hal yang tercela. Jika ada orang yang terpaksa berhutang kepada kita, kita harus bersikap seolah-olah dia tidak pernah berhutang kepada kita. Seperti yang diajarkan Tuhan, jika seseorang membutuhkan bajumu, berikan juga kepadanya mantelmu. Maksudnya, kalau kita bantu orang, jangan diungkit2, jangan dijadikan alasan untuk menekan dia atau memandang dia lebih rendah. Itu dosa.

Say your words