Melajang…

Chatting dengan teman di Indo, gue kaget setengah mati saat dia tiba2 bilang : “mungkin aku nggak akan nikah”… HAH ??

Melajang… sebuah pilihan yang sulit bagi sebagian orang. Bisa dibilang, setiap manusia tidak ingin sendirian dalam melewati sisa hidupnya. Paling tidak ada istri atau suami dan anak2 di sampingnya untuk melewati hari2 yang ada. Berikut ini sedikit pendapat saya tentang melajang. Kalau tidak berkenan, boleh kasih comment…

Esensi dari melajang

Esensi dari melajang menurut saya adalah : anda tidak siap berbagi (memberi dan menerima) segalanya dengan seseorang, dan orang tidak siap berbagi dengan anda. Menikah berarti membagi waktu kita, tubuh kita, emosi kita, pendapatan kita, hobi kita, cita2 kita, idealisme kita, visi kita, dan segalanya dengan orang lain. Menikah adalah kontrak seumur hidup.

Beberapa penyebab orang memilih/terpaksa menjadi lajang :

Terlalu idealis.  Tidak ada yang sempurna dalam dunia ini, termasuk anda. Jika anda memilih pasangan yang sudah mapan, terpandang, ganteng/cantik, pendek kata nomer satu, anda akan kesulitan untuk memperoleh pasangan hidup. Sementara waktu terus berlari.

Terlalu selfis. Seperti yang saya singgung di atas, menikah berarti membagi hidup anda dengan seseorang. Jika anda tidak terbiasa berbagi dan tidak bisa berkompromi, anda akan susah mendapatkan pasangan.

Terlalu kaku. Hidup ini tidak mudah untuk dijalani. Banyak pasang surut yang terjadi. Anda harus fleksibel dan memberi ruang untuk kompromi. Jika memiliki pasangan, anda harus memberi tempat untuk mengalah dan membiarkan ide/jalan pasangan anda yang dipakai.

Terlalu kuatir. Menikah emang butuh persiapan, baik mental maupun modal (uang). Tapi jika anda menunggu cukup (punya rumah dulu, punya mobil dulu, punya deposito dulu, punya perusahaan dulu, punya kolam renang pribadi dulu, punya gelar s3 dulu, dsb) maka yang terjadi adalah anda tidak akan menikah. Karena “cukup” itu sangat relatif dan terus bergerak. Zaman dulu menikah dengan biaya 10 juta sudah cukup. Zaman sekarang butuh 50 juta baru bisa dibilang cukup. 10 tahun lagi ? Mungkin 300 juta baru dibilang cukup. Selama kebutuhan basic sudah tersedia, kenapa tidak melangkah saja ? Rezeki akan datang seiring waktu kok.

Terlalu takut disakiti. Juga ada yang takut disakiti jika nantinya menikah. Mungkin orang tuanya bercerai atau pernikahan orang tuanya tidak sehat, sehingga dia takut untuk mengalami hal yang sama.

Terlalu rohani. Ada teman yang hanya mau menikah dengan lawan jenis yang “pangkat rohani”nya sudah tinggi. Ingat, proses pengenalan akan Sang Pencipta adalah proses seumur hidup. Anda tidak akan bertemu dengan orang yang sudah “suci”.

Masih banyak lagi faktor2 penyebab orang tidak menikah. Saya tidak ingin membahasnya satu per satu di sini.

Plus minus melajang

Dari sisi kesehatan, tidak menikah (baca : tidak melakukan hubungan sex) sangat merugikan dari sisi kesehatan. Penelitian menunjukkan bahwa dalam melakukan hubungan sex, hormon2 tubuh kita diregenerasi. Sel2 tubuh kita diregenerasi. Salah satu riset mengatakan, sekali berhubungan sex sama dengan berolah raga selama 1 hari penuh. Dalam berhubungan sex, tubuh mengeluarkan hormon yang bernama endorfin. Hormon ini akan memicu pembentukan hormon2 lain yang berfungsi untuk “merefresh” fungsi2 organ tubuh yang lain.

Banyak ditemukan penyakit2 kronis yang menyerang orang2 yang tidak menikah (baca : jarang berhubungan sex). resiko terkena penyakit lainpun lebih besar dari pada orang2 yang menikah. Misalnya resiko kanker prostat, kanker rahim, dsb. Dari kulit pun bisa dibedakan. Orang yang menikah (baca : rutin berhubungan sex) memiliki kulit yang relatif lebih halus dan segar dibanding dengan orang yang melajang (baca : jarang berhubungan sex). Ini dikarenakan sel2 yang ada tidak diperbaharui.

Dari sisi psikologis, orang yang menikah mendapatkan stimulus psikologis yang lebih baik (dengan catatan pernikahannya sehat). Semua orang tahu, bahwa manusia yang bijaksana adalah manusia yang selalu membawa “cermin”. Dengan cermin itu dia bisa menilai, apa yang dia lakukan itu benar atau salah. Dengan menikah, anda memiliki “cermin hidup” yang akan menemani anda seumur hidup anda. Pasangan anda akan menjadi partner dalam segala hal. Anda jengkel, ada pasangan yang jadi “tempat sampah”. Anda sedih, ada pasangan yang siap menjadi penopang hidup anda. Dengan demikian, emosi anda bisa stabil. Saat marah, bisa dikeluarkan, saat takut, bisa diredakan. Bebanpun bisa dibagi berdua, meskipun beban itu kadang meningkat dua kali lipat. Emosi/jiwa yang sehat akan berpengaruh pada tubuh anda. Tubuh anda akan menjadi sehat pula. Itulah sebabnya orang yang menikah relatif lebih tahan penyakit dibanding dengan yang melajang.

Pengaruh orang lajang dalam kehidupan

Orang yang melajang memiliki banyak waktu untuk mengembangkan dirinya sendiri. Karena itu, banyak orang yang melajang sukses menjadi pemimpin, baik di gereja, di perusahaan, di kantor, di kampus, di sekolah, maupun di tingkat masyarakat. Karena mereka biasa mem-push diri mereka sampai ke batas limit yang ada tanpa direpotkan oleh siapapun.

Orang yang melajang adalah “robot” yang terbaik bagi perusahaan. Karena dia terbiasa dan bisa di-push sampai ke batas limit yang ada. Namun sebaliknya, pimpinan yang lajang adalah “horor” bagi bawahan atau rekan kerja yang berkeluarga. Pemimpin yang melajang akan kesulitan untuk mengerti, bahwa anda harus segera pulang untuk memasak, untuk menemani anak anda belajar, dsb. Bagi mereka itu tidak masuk akal (karena mereka tidak mengalaminya bukan ?).

Footnote

Melajang atau menikah adalah pilihan. Namun secara nature, manusia adalah makhluk sosial. Dia butuh teman untuk menjalani hidup ini. Untuk menjalani hidup ini sendirian, manusia itu harus bermetamorfosis menjadi keras dan kaku untuk bisa survive sendirian. Dan itu bukanlah tujuan manusia diciptakan…

Say your words