Election in the church
Hari ini di gereja Chung Li diadakan pemilihan tua-tua gereja yang baru. Mereka akan bertugas menjadi tua-tua (majelis) gereja selama setahun ke depan. Peristiwa ini cukup unik dan belum pernah saya saksikan sebelumnya.
Di gereja saya di Semarang, pemilihan tua-tua diadakan tertutup, dan jemaat tidak tahu serta tidak bisa memilih tua-tua yang akan menjabat. Namun demikian, pihak gereja mengumumkan calon2 tua-tua yang akan menjabat dan nama + photo mereka ditampilkan di warta gereja selama 4 minggu berturut-turut. Jika ada keberatan dari jemaat, jemaat bisa mengirimkan keberatannya, dan pencalonan tua-tua yang bersangkutan akan dipertimbangkan kembali.
Sementara itu, gereja di Taiwan di mana saya aktif sebelum pindah ke gereja Chung Li ini beda lagi. Di tahun pertama saya hadir, mereka hanya memiliki seorang pendeta, tanpa adanya majelis gereja. Beberapa bulan kemudian, tiba2 di salah satu kebaktian, sang pendeta mengumumkan di mimbar, bahwa Mr. X diangkat menjadi majelis satu2nya di gereja tersebut. Hmm…. organisasi yang cukup aneh buat saya…
Demokratis
Kembali ke gereja Chung Li, sejak sebulan yang lalu telah diumumkan bahwa pemilihan tua-tua yang baru akan diadakan tanggal 9 November 2008. Ada 10 calon yang sudah dipublikasikan di warta gereja beserta dengan biografi, keluarga, serta visi dan misinya. Jemaat memiliki waktu untuk menilai dan berdoa sebelum memilih. Selain mempublikasikan biografi calon tua-tua yang akan dipilih, dibagikan juga buku pertanggungjawaban pendeta beserta tua-tua dalam kepengurusan tahun sebelumnya.
Hari ini adalah hari H. Kebaktian diawali seperti biasa dengan pujian dan firman Tuhan. Kemudian anak2 remaja sekitar 30 orang mempersembahkan pujian. Kemudian disusul dengan pertanggungjawaban pendeta selama setahun ini. Bagus yah sistemnya ? Jadi pendeta di sini bukanlah penguasa gereja itu, tapi hamba yang jelas pertanggungjawabannya terhadap jemaat.
Kemudian tiap2 calon tua-tua memperkenalkan diri di mimbar dan menyampaikan visi dan misinya. Setelah semua calon selesai berbicara, jemaat mendapatkan 1 lembar kertas pemilihan yang berisi 10 nama calon tua-tua yang ada. Jemaat hanya memilih 7 dari 10 calon yang ikut dalam pemilihan. Setelah selesai, jumlah suara dihitung, dan ditetapkanlah 7 tua-tua (majelis) jemaat yang terpilih dan akan bertugas untuk 1 tahun ke depan.
Gereja harus memiliki organisasi yang baik
Hmm…. ini menarik sekali. Saya rasa ini contoh organisasi gereja yang baik. Pertanggungjawaban pendeta jelas dan terbuka, pemilihan tua-tua dilakukan secara fair dan terbuka, dan jemaat terlibat aktif di dalamnya.
Ada banyak sistem organisasi gereja yang kurang baik. Pendeta tidak dituntut memberi pertangungjawaban kepada jemaat, tua-tua dipilih dan diangkat atas dasar kedekatan dengan sang pendeta, dan sebagainya. Akibatnya, arah gereja dan kebijakan pimpinan tidak ada yang mengontrol. Pemimpin gereja menjadi diktator yang menjalankan organisasi gereja sesuai dengan “mood”nya sendiri. Tidak ada yang berani menegur dan memberikan koreksi. Yang dianggap tidak sevisi, bisa dengan mudah “ditendang”. Dan ini sangat tidak baik bagi gereja itu sendiri. Terlebih lagi bagi perkembangan rohani jemaat.
Dalam kitab Yeremia dikatakan bahwa Tuhan akan segera datang menghakimi dunia. Dan dengan jelas dikatakan di sana, bahwa penghakiman akan dimulai dari rumah Tuhan sendiri. Mulai dari gembala2 dan pemimpin2 gereja, dan berlanjut ke seluruh jemaat Tuhan. Gereja Chung Li menurut pandangan saya telah memberikan contoh yang baik dalam hal penerapan organisasi gereja yang rapih, terbuka, dan teratur. Semoga dapat menjadi contoh bagi gereja2 yang lain. Amiiin….