Ber-rumah-tangga itu engga gampang…

Ada seseorang yang bercerita, kalau dia mengalami masalah yang besar dalam rumah tangganya. Si suami dirasakan terlalu membela dan memprioritaskan keluarga si suami dibanding dirinya dan keluarganya. Akibatnya, mereka sering ribut.

Ada juga pernikahan lain yang saat dimulai, masing2 keluarga besan sudah mulai menghitung, apakah keluarga besan ini memberatkan secara finasial atau malah menguntungkan dan bisa mengangkat derajat. Busyet. Tapi ini kenyataan yang ada.

Banyak orang menikah untuk menyelamatkan harta keluarga, untuk meningkatkan martabat keluarga (dengan menikahi anggota keluarga yang posisinya lebih tinggi di masyarakat), untuk meningkatkan taraf hidup (dengan menikahi keluarga kaya), dan sebagainya.

Bagaimana dengan cinta ? Ternyata cinta sepasang kekasih tidak cukup untuk menjadi dasar sebuah pernikahan. Kepentingan keluarga lebih mendominasi.

Tujuan ber-rumah-tangga

Aku pribadi memiliki pandangan, bahwa saat aku dan istriku menikah, itu adalah saat yang paling indah yang paling aku syukuri. Bagaimana tidak ? Dengan menikah, berarti ada sebuah keluarga yang siap menerima segala kelemahan keluargaku, dan sebaliknya, ada sebuah keluarga yang mempercayakan segala kelemahannya kepada keluargaku. Jadi kalau orang menikah, kemudian saling mencari2 kelemahan dari keluarga pasangannya, sudah pasti akan mudah menemukannya. Segudang malahan. Lha wong kelemahan digabung dengan kelemahan kok. Tapi juga sebaliknya, masing2 keluarga membawa kelebihan masing2, sehingga kalau yang dicari adalah kelebihannya, maka akan ditemukan dua gudang malahan. Hahahahaha….

Seringkali pasangan kekasih cuma membatasi cara pandang, bahwa aku cinta dia, dia cinta aku, kedua keluarga merestui, menikahlah kita. Tapi hanya sedikit pasangan yang menaruh perhatian khusus, bahwasanya sebuah pernikahan itu bukan hanya antar pasangan kekasih saja, tapi juga “pernikahan” hati setiap anggota keluarga yang ada. Antara adik ipar dengan ayah kita, antara mertua kita dengan istri dari adik kita, antara istri kita dengan suami kakak ipar kita, dan sebagainya.

Seringkali masalah rumah tangga muncul bukan dari pasangan suami istri, tetapi dari keluarganya. Bagi pasangan yang tidak menyadari, bahwa keluarga besar harus ikut “menikah” hatinya, pastinya akan segera guncang. Kestabilan pernikahan bukan hanya tergantung dari keluarga inti saja, tapi juga keluarga besar.

Ada pasangan2 yang cukup beruntung, bahwa begitu menikah, orang tuanya sudah menyediakan rumah, sehingga pasangan tersebut bisa mandiri dan mengurus rumah tangganya sendiri. Apa yang terjadi dalam keluarga besar, sudah di luar urusan mereka. Tapi ada banyak pasangan yang tidak seberuntung itu. Untuk itulah, seni mengelola keluarga dibutuhkan.

Potensi terjadinya konflik sangat besar, karena masing2 individu merupakan pribadi yang unik dan punya karakter yang berbeda. Namun itulah yang namanya KELUARGA. Berbeda karakter, tapi satu entitas. Tidak bisa seorang anak berperilaku atas namanya sendiri. Kalau dia kena masalah, pastilah keluarganya ikut terseret pula. Itu yang sering dilupakan oleh pasangan2, bahkan pasangan Kristen sekalipun.

Kasih adalah dasar rumah tangga

Ketika ditanya istriku, mengapa aku memilih dia sebagai istrinya, aku menjawab : apa yang ada dalam hidupku, adalah anugerah Tuhan semata. Aku mendapatkan semuanya dengan cuma2. Aku mencari kasih untuk membangun keluarga. Dan aku melihat ada kasih dalam dirimu dan keluargamu. Itulah dasar aku mengejarmu dan meminta Tuhan agar kamu diberikan menjadi istriku. Cieeee…… cewek mana yang engga klepek-klepek coba ?? hahahahaha…. Tapi ini serius. Apa yang kamu cari dalam ber-rumah-tangga ? Harta yang lebih banyak ? Posisi di masyarakat yang lebih terpandang ? Kemudahan2 hidup yang selama ini belum pernah kamu temui ? Semuanya itu engga ada artinya sobat !

Ber-rumah-tangga itu engga mudah. Itu benar adanya. Ber-rumah-tangga itu ada pasang surutnya. Ada suka, ada duka. Ada kelimpahan, ada kekurangan. Begitu kompleks. Orang yang belum ber-rumah-tangga, tidak akan pernah bisa mengerti bagaimana rasanya ber-rumah-tangga. Itu benar2 pengalaman baru, yang tidak pernah bisa dipelajari, walaupun lewat buku sekalipun. Makanya, kalau ada masalah dalam rumah tangga, tidak akan nyambung kalau kita sharing dengan orang yang belum pernah ber-rumah-tangga.

Dalam ber-rumah-tangga, yang dibutuhkan adalah KOMITMEN. Bagaimana tidak ? Semakin lama kamu berkeluarga, semakin tahulah kamu kelemahan pasanganmu dan keluarganya. Apa engga semakin eneg tuh ? Kalau kamu cuma mencari yang ideal saja dalam ber-rumah-tangga, maka kamu akan kawin cerai melulu. Tapi kalau kamu sudah berkomitmen, sampai matipun kamu akan bertahan. Itulah sebabnya, dalam pemberkatan nikah, pasangan mempelai mengucapkan janji pernikahan yang sama : Aku akan mengasihinya, baik dalam suka maupun duka, saat kekurangan maupun kelimpahan, saat sehat maupun sakit, sampai maut memisahkan kita.

Tidak ada tho, yang janji pernikahannya begini : Aku akan mengasihinya, baik dalam suka maupun duka, saat kekurangan maupun kelimpahan, saat sehat maupun sakit, sampai GENDUT memisahkan kita. Atau sampai HUTANG memisahkan kita. Atau sampai KLOMPROT memisahkan kita. Atau sampai BMW memisahkan kita. Atau sampai LINDSAY LOHAN memisahkan kita. Atau sampai LEONARDO DiCaprio memisahkan kita. Ga ada tho ????

Say your words