Being humble before The Lord

Hari ini kotbahnya diambil dari Yakobus 4 : 1 - 17. Pendeta memaparkan, bahwa ada 3 jenis hubungan antara manusia dengan Tuhan yang dijalani oleh kebanyakan anak2 Tuhan hari2 ini.

Yang pertama, hubungan manusia dengan Tuhan yang bersifat : Ini aku Tuhan… apa yang bisa Kau lakukan untukku ? Banyak orang2 Kristen yang mendasari hubungannya dengan Tuhan dengan prinsip seperti itu. Aku menjadi Kristen, karena Tuhan melakukan banyak hal untuk aku. Ya memberi rezeki kepadaku, membantu aku saat aku butuh pertolongan, mengadakan mujizat dalam hidupku, menyelamatkan aku, mengasihi aku, dan sebagainya.

Yang kedua, hubungan manusia dengan Tuhan yang bersifat : equal alias sama. Aku lakukan bagianku, Tuhan lakukan bagianNya. Kedua pihak sama2 puas, sama2 capenya.

Yang ketiga, hubungan manusia dengan Tuhan yang bersifat : aku begitu mencintai diriku sendiri… dan aku bersyukur, ada Tuhan di dalamnya. Hidupku ini begitu indah… jadi lebih indah lagi karena ada Tuhan di dalamnya.

Well…. menurut bapak pendeta, sebenarnya ketiga hubungan di atas tidaklah yang Tuhan mau, karena yang menjadi center dalam ketiga hubungan di atas adalah si aku, bukan Tuhan. Namun dalam Yakobus 4 dikatakan, walaupun tidak ada manusia yang mampu memberikan hubungan yang baik dengan Tuhan, Tuhan malah memberikan karunia yang lebih banyak (ayat 4).

Bagaimana supaya kita bisa menerima kasih karunia Allah lebih lagi ? Yaitu dengan mendekatkan diri kepada Allah. Kuncinya adalah : merendahkan diri di hadapan Tuhan. Dengan merendahkan diri kepada Tuhan, iblis akan lari dari kita (ayat 7 : Karena itu tunduklah kepada Allah, dan lawanlah Iblis, maka ia akan lari dari padamu !). Kita perlu ingat, bahwa saat kita dekat dengan Allah, iblis akan lari dari kita. Tapi ingat, iblis akan kembali lagi. Tapi prinsip ini berlaku, setiap kali iblis kembali untuk menyerang kita, yaitu bahwa jika kita tunduk kepada Allah, maka iblis akan lari dari kita.

Who moved ?

Ada seorang cowok naksir seorang gadis manis. Mereka menjadi sepasang kekasih, yang begitu mesra. Kemana-mana selalu bergandengan tangan. Pokoknya mesra abis. Setiap kali naik mobil, layaknya orang yang kasmaran, si cowok nyetir, dan si cewek duduk sangat rapat dengan si cowok. Kadang sambil memeluknya. Hubungan mereka berlanjut ke pernikahan.

Setelah menikah, mulai ada perubahan yang terjadi. Saat mengendarai mobil, posisi si cewek engga serapat dulu… mulai renggang. Tahun demi tahun berlalu… sampai suatu saat ketika mengemudikan mobilnya, si suami berkata pada istrinya yang kini duduk sambil bersandar di pintu : “Hei… kenapa kita tidak seperti dulu lagi ? Dulu saat masih pacaran, kita duduk begitu rapat, begitu dekat. Kenapa sekarang tidak lagi ? Ayo, merapat ke sini…”.

Pertanyaannya : siapa yang menjauh ? Si cowok tetap pada posisi semula, yaitu memegang setir. Si cewek lah yang menjauh. Begitu pula dengan hubungan kita dengan pemegang setir kehidupan kita. Kita lah yang bergerak menjauh, sementara Tuhan tetap pada posisinya semula, yaitu memegang setir kendali hidup kita. Sementara kita mulai menyandarkan diri pada “pintu mobil” bukan kepada Tuhan.

Burn out the bridge behind us !

Di medan pertempuran, seorang jenderal menggunakan taktik yang berbeda dalam menerjunkan pasukannya ke medan pertempuran. Saat dia menyuruh pasukannya masuk ke medan pertempuran dan melewati sebuah jembatan utama untuk masuk ke medan pertempuran, si jenderal berpesan : “Setelah kalian melewati jembatan itu, hancurkanlah jembatan itu !”. Tujuannya adalah supaya para serdadu itu tidak bisa balik lagi. Akibatnya, serdadu2 itu mau engga mau harus fokus maju ke depan untuk memenangkan pertempuran.

Demikian juga kita. Untuk maju menundukkan diri kepada Allah, kita harus berjalan maju, kemudian menghancurkan “jembatan” yang ada, supaya kita tidak bisa kembali ke kebiasaan buruk yang lama, dan fokus untuk terus maju menjadi seperti yang Tuhan mau.

Being humble before the Lord… itu adalah kuncinya. Jabatan2 mentereng dalam kerohanian, sama sekali tidak ada artinya….

Say your words