Aku punya seorang kakak perempuan satu2nya, dia sudah menikah dan punya 2 anak cowok. Kami memang dari keluarga yang kurang begitu mampu, jadi cicikku itu cuma bisa sekolah sampai SMU saja. Itupun dengan tertatih-tatih, alias sering nunggak uang sekolah. Kalau aku bisa sampai S2 seperti sekarang, itu semua karena anugerah Tuhan semata-mata. Back to the real story of my family….
Suami cicikku ini sarjana ekonomi, lulusan universitas terkenal, tempat aku mengajar sekarang. Setelah lulus, dia bekerja sebagai sales di Astra International. Mentereng kan ? Tapi karena krisis ekonomi tahun 97, penjualannya mulai menurun, dan akhirnya dikeluarkan karena tidak memenuhi target. Oh ya, kakak iparku ini seorang majelis di gerejanya lho. Dari keluarga yang aktif pelayanan di gereja juga.
Krisis ekonomi memporakporandakan ekonomi keluarga cicikku. Dulu anaknya yang gede (Yesaya) sekolah bareng Amanda (anakku) di sekolah yang terkenal di Semarang. Tapi pas masuk SD, terpaksa dipindah ke sekolah yang agak ringan biayanya. Setiap hari, keponakanku ini ke sekolah sambil membawa kue bolu kukus bikinan cicikku untuk dititipkan di kantin sekolahnya, sekedar untuk menambah uang jajan. Itu terjadi pas dia masih kelas 1 SD.
Cicikku sendiri engga kalah berjuang. Dia bekerja ambil 2 shift di sebuah rumah makan sebagai kasir. Shift pagi dari jam 9 - 4, pulang sebentar ke rumah, lanjut lagi shift malam dari jam 5 - 23. Itu dia lakukan setiap hari agar dapur mereka tetap berasap. Anak2 diasuh oleh mamiku (mamiku sendiri bekerja di gereja selama setengah hari), dan bermain bersama anak2ku. Kebetulan rumah kami satu area.
Upside-down life
setelah keluar dari Astra, kakak iparku mencoba bekerja di sana sini, tapi kurang berhasil. Sampai suatu ketika, dia terkena masalah dan tertimbun hutang yang cukup banyak, sampai harus berurusan dengan polisi. Kakak iparku sempat ditahan beberapa hari di Polres Jepara. Puji Tuhan, dia bisa dikeluarkan setelah dilakukan kesepakatan secara kekeluargaan dengan pihak2 terkait.
Sejak itu, kakak iparku menganggur. Dia mencoba mencari kerja di sana sini, tapi belum berhasil. Itu terjadi akhir tahun lalu. Selama itu pula, bukan hanya masalah keuangan saja yang mendera keluarga cicikku, tapi juga masalah kerohanian dan kejiwaan. Karena malu, kakak iparku dan keluarganya keluar dari gereja, dan tidak ke gereja lagi. Langkah yang keliru ? Iya juga sih… tapi emang berat bagi mereka untuk melewatinya. So, ga ada gunanya mencela langkah mereka. Selain itu, karena tidak memiliki penghasilan, masalah rumah tangga lainnya mulai muncul. Cicikku kerja keras, sementara suaminya engga bekerja, kebutuhan keluarga dan anak2 mulai engga tercover, saling menyalahkan, dsb. Keluarganya mulai oleng. Anak2 engga mendapat perhatian yang cukup, engga mendapat figur ayah dan ibu yang baik. Halo…. ini realita kehidupan yang dialami seorang anak Tuhan lho….
Reaksiku dan keluargaku
Aku dan istriku, kami juga engga diam menghadapi itu semua. Tapi apa daya kami, kemampuan kami untuk mensupport mereka juga terbatas. Anakku sekolah di sekolah terkenal karena gratis, mamahnya kerja di sana. Kami juga engga berlebihan dalam keuangan. So, kami support semampunya, dengan menanggung biaya listrik mereka tiap bulannya.
Bagaimanapun juga, itu cicikku satu2nya. Hatiku begitu resah melihat kehidupan mereka. Ingin mengambilalih beban2 mereka, tapi aku engga mampu. Aku sendiri punya keluarga yang harus aku handle. Aku harus menjaga keharmonisan antar keluarga besarku supaya pihak istriku tidak merasa dirugikan karena aku terlibat terlalu dalam, khususnya dalam hal keuangan. Aku harus memastikan, bahwa keluargaku tidak ikut terseret dalam gelombang kehancuran itu.
Aku benar2 bingung, bimbang, perasaanku tidak pernah bisa “semeleh” kata orang jawa. Dan teman2 di Taiwan tahu, aku tidak pernah bisa tidur sebelum subuh datang. Dan itu berlangsung sejak tahun lalu. Aku ingin segera pulang ke Indo, untuk melakukan apa yang aku bisa lakukan. Paling tidak aku bisa memberikan kata2 semangat kepada mereka.
God is my hidding place
Beruntung, aku punya Tuhan Yesus. Dia Allah yang hidup. Aku setiap hari berdoa, kadang juga berpuasa, untuk pemulihan keluargaku. Kalau teman2 POKI ingat, apa yang jadi doaku selama setahun ini saat awal tahun baru kemaren, aku minta pemulihan bagi keluargaku. Hayoo…. ga ada yang peduli dengan semua pergumulanku tho ? wekekekeke….
Tapi Tuhan yang aku percayai adalah Allah yang setia. Dia punya rencana yang indah bagi anak2Nya, termasuk aku dan keluargaku. Setahun sudah aku berdiri di hadapanNya membawa semua anggota keluarga besarku, mohon belas kasihan dan pemulihanNya. No one care… but He DOES CARE of me. Dia membantu aku melewati setiap hari2ku di sini dengan sangat baik.
God is always in control
2 minggu yang lalu istriku sms, mengabarkan kalau kakak iparku mulai bekerja lagi. Mau tahu apa pekerjaannya ? Jual beli botol2 bekas ! Waduh… secara manusia, aku juga gengsi kalau punya kakak jadi pengumpul botol2 bekas. Halo… dari seorang sarjana ekonomi yang pernah kerja di Astra beberapa tahun, tiba2 menjadi pengumpul botol2 bekas… Tapi aku terus bersyukur pada Tuhan. Aku tahu benar, Allah sedang memproses keluarga cicikku. Alias doaku dijawabNya dengan caraNya sendiri. Aku percaya, caraNya jauh lebih sempurna dari yang aku pikirkan.
Kemaren, istri sms lagi, usaha jual beli botol bekasnya bangkrut… berhenti. Waa…. another bad news comes like a turbulence… Tapi Tuhan itu setia. Kakak iparku diterima bekerja di sebuah sekolah internasional di Semarang. Mau tahu apa posisinya ? Jadi supir ! Dari seorang eksekutif Astra, menjadi seorang supir. Oh my God !
Setia dalam perkara kecil
I still believe ! Itu sloganku dalam menghadapi segala masalah. Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberikan kekuatan kepadaku (Filipi 4 : 13).
Aku terus bersyukur untuk setiap perkara yang terjadi dalam keluargaku. Aku mengikuti terus setiap perkembangan yang terjadi, dan aku selalu bawa dalam doaku. Aku selalu confirmasi dengan Bapa di surga dalam doaku setiap hari atas semua perkembangan yang terjadi.
Hari ini mengirimkan sms kepada kakak iparku. “Selamat atas pekerjaan baru yang dikaruniakan Tuhan kepadamu mas. Apa yang dijumpai tangamu untuk dikerjakan, lakukanlah itu seperti engkau melakukannya untuk Tuhan dan bukan untuk manusia. Tuhan memberkatimu”.
The real bersyukur selalu…
Tahun ini aku diajarkan oleh Tuhan, bagaimana mempraktekkan apa itu “bersyukur selalu”. Aku sering menyanyikannya. Tapi kali ini aku mempraktekkannya. Aku bangga, kakak iparku yang sarjana ekonomi menjadi seorang supir di sebuah sekolah di Semarang. Aku bersyukur, karena Tuhan memproses keluargaku sedemikian rupa. Kami dibawaNya melewati jalanan yang curam dan terjal, sungguh sebuah jalan yang tidak diharapkan oleh siapapun. Tapi di tempat itulah, kami diajarkan bagaimana bergantung sepenuhnya pada Tuhan. Kami diajarkan bagaimana menghargai hidup ini, menghargai setiap berkat yang Tuhan berikan pada kami. Dan di tempat seperti itulah, kami bisa dengan jelas merasakan, bahwa Allah menjagai kami, menuntun kami, menyediakan apa yang jadi kebutuhan kami.
Hidup di dalam Tuhan bukanlah seperti hidup dalam awan2 yang dilukiskan dengan begitu indah. Orang berkata : di dalam Tuhan kita akan hidup dari kemuliaan ke kemuliaan yang lain…. NO !! Itu terlalu ideal, jika diartikan secara harafiah. Hidup di dalam Tuhan adalah hidup yang mengalami Tuhan. Di dalam kondisi yang terburuk, di situlah kita bisa mengakui, bahwa Tuhan adalah penguasa hidup kita.
Bersyukur selalu bagi kasihMu di dalam hidupku….
Dan tak kan kuragu atas rencanaMu tuk masa depanku…
….. AMIEN….