Started by God’s mercy, ended by God’s will

Itu thema kotbah minggu ini… hidup kita dimulai oleh kasih karunia Tuhan, dijalani dan diakhiri dalam hidup yang sesuai dengan kehendak Tuhan.

Memang benar, siapapun kita, kalau melihat ke belakang, seringkali kita menyaksikan banyak hal yang baik, yang telah terjadi dalam hidup kita. Sebagian orang menamainya dengan “kebetulan”, sebagian lagi dengan “luck”, sebagian lagi dengan “bejo”, tapi apapun sebutannya, itu adalah kasih karunia Tuhan.

Setelah mendapat kasih karunia Tuhan, kita meresponnya dengan mempersembahkan seluruh hidup kita bagi Tuhan. Maka kita akan mendapati, bahwa hidup yang kita jalani, adalah hidup yang telah dirancang sesuai dengan kehendak Sang Pencipta.

Sore ini, aku nongkrong di main gate kampusku, di CYCU Taiwan. Hari minggu yang cerah begini, banyak orang yang menikmati suasana santai di taman kampusku yang luas dan rindang. Aku melihat banyak pemandangan yang menawan hati. Anak2 kecil berkejar2an… sementara yang lain mengayuh sepedanya kian ke mari. Aku melihat beberapa pasangan yang sudah tua, saling berpelukan mesra, seakan bisa terlihat cinta yang menyatukan mereka tidak lekang dimakan waktu. Sang kakek tidur2an di bangku, sementara sang nenek memeluk mesra suaminya sambil tersenyum.

Sepasang suami istri saling berpelukan mesra, sementara kedua anak mereka bermain2 di samping mereka. Tak lama kemudian, kedua anak laki2 dan perempuan mereka memeluk dan menciumi ayahnya, sampai ayahnya kegelian. Ayahnya balik menciumi anak2nya. Kemudian kedua anak tadi ganti menyerbu ibu mereka, memeluk dan menciumi ibu mereka. Si ayah ternyata sadar, kalau sedang kuperhatikan. Dia tersenyum dan mengangguk kepadaku… kubalas dengan anggukan dan senyuman… what a wonderful family….

Sebuah motor dengan sespan (kereta di samping) masuk melalui main gate. Si pengemudi adalah seorang bapak2, sementara di sampingnya seorang gadis kecil berumur sekitar 8 tahun berpegangan erat pada sespan. Setelah parkir, si bapak turun dari motornya dengan menggunakan kursi roda. Sementara si gadis kecil segera mendorong kursi roda itu untuk berjalan mengelilingi taman. Aku melihat betapa cerianya mereka berdua…. betapa mesranya… bapak yang berkursi roda dan gadis kecilnya… Mereka bercanda2… tampaknya si bapak sedang menggoda anaknya, dan si anak membalas godaan bapaknya dengan tawa yang lepas. Tak ada raut susah di wajah mereka, sekalipun sang bapak hanya duduk di kursi roda. Si gadis kecil dengan kaki2nya yang kecil bergerak lincah mendorong kursi roda itu, sementara tangan si bapak membantu untuk memutar rodanya. Sementara itu tawa dan canda tak pernah lepas dari mereka. Senyum dan tawa tak pernah lepas dari wajah mereka. Betapa indahnya….

Aku baru tersadar, betapa God’s will itu begitu baik… begitu perfect… Meskipun tampak secara lahiriah bahwa itu adalah keadaan yang memilukan (si bapak lumpuh), namun tidak nampak kesusahan di wajah mereka. Teringat aku akan lanjutan kotbah pagi tadi….

The will of God will never take you,
where the grace of God cannot keep you…
where the arm of God cannot support you…
where the riches of God cannot supply your needs…
where the power of God cannot endow you…

The will of God will never take you,
where the spirit of God cannot work through you…
where the wisdom of God cannot teach you…
where the army of God cannot protect you…
where the hands of God cannot mold you…

The will of God will never take you,
where the love of God cannot enfold you…
where the mercy of God cannot sustain you…
where the peace of God cannot calm your fears…
where the authority of God cannot overrule you…

The will of God will never take you,
where the comfort of God cannot dry your tears…
where the word of God cannot feed you…
where the miracles of God cannot be done for you…
where the omnipresence of God cannot find you…

Tanpa sadar, terlontar kata2 dari bibir mungilku…. “thank you Lord for the wonderful life of mine…”

Say your words