Menilai manusia secara utuh…

Temanku yang satu ini memang fenomenal. Sebut saja namanya Boby. Berasal dari sebuah keluarga sederhana, Boby dapat menyelesaikan kuliahnya hingga memperoleh gelar sarjana. Lulus kuliah, Boby bekerja sebagai sales di sebuah bank asing. Di situ pula dia berkenalan dengan teman kerjanya, yang kemudian menikah dengan seorang pria, anak konglomerat. Boby memang ulet. Talian pertemanannya dengan rekan kerjanya tadi, membuat dia memiliki jaringan keuangan yang kuat. Bekas temannya (yang kini jadi mantu konglomerat) mempercayakan beberapa unit bisnis yang dirintisnya kepada Boby. Insting bisnis Boby juga bermain. Dia mulai membuka usaha sendiri, dengan dukungan modal dari temannya tadi. Kabar terakhir, istriku bertemu dengan Boby yang sekarang sangat keren. Mobil baru saja diganti dengan mobil baru seharga 300 jutaan, ke gereja diiringi oleh 2 baby sitter, plus istri dan 2 anaknya. Benar2 fenomenal. Kami teman2 lamanya benar2 kagum dengan kondisinya sekarang.

Zaman sekarang, orang dinilai dari apa yang dipakai, mulai dari baju yang dipakai, HP yang dipakai, mobil yang dipakai, dan sebagainya. Melihat Boby dengan mobil mewahnya, membuat hati ini tergelitik…. akankah aku bisa seperti dia ? Semua orang berkata, Boby sudah berhasil jadi orang… Well, aku tidak tahu juga, apakah Boby yang sekarang masih seperti Boby yang dulu ? Boby yang suka makan di warung pak Man. Boby yang suka maen badminton. Jangan2 sekarang dia sudah sibuk dengan urusan kantornya ? Wekekekekeke…..

Aku membiasakan diriku untuk tidak menempatkan diri lebih rendah dari teman2 yang kini sukses. Aku juga membiasakan diri untuk tidak memandang mereka lebih sukses dari aku. Aku mengenal mereka saat mereka belum menjadi orang. Aku tahu mereka seperti apa dulu… keluarganya…. saudara2nya…. Bagiku, mereka sama seperti dulu….

Akupun tidak suka orang memandang aku sekarang sudah sukses. Aku tidak suka teman2 lamaku jadi sungkan mengganggu waktuku… sungkan mengajakku bercanda2…. hahahaha…. untuk apa semua harta benda ini, kalau itu menjadi penghalang bagi kami untuk bisa dekat seperti dulu ?

Hal itu juga yang aku tanamkan pada keluargaku, istri dan anak2ku. Kalau harta benda, kedudukan, dan gengsi sudah merusak nilai2 keluarga kami, membuat kami memandang lebih rendah satu dengan yang lain, itu tidaklah benar. Anak2 selalu aku tekankan… jangan minder kalau ada temanmu yang kelihatan lebih wah dari kamu. Tapi juga, jangan pernah memandang temanmu lebih rendah dari kamu. Kamu dan dia adalah sama. Sama2 masih nodong orang tua. Sama2 belum bisa mandiri. Sama2 harus belajar dan sekolah.

Amanda di sekolah bermain dengan siapa saja, meskipun mamahnya kepala sekolah di sana. Aku memberinya jatah uang saku 50 ribu sebulan. Dia harus belajar me-manage uang sakunya. Ga ada cerita baru awal bulan sudah minta lagi. Habis ? Ya ga jajan sampai akhir bulan. Ada sisa ? Ditabung. Kami biasakan dia untuk mempunyai keinginan, seperti pengen tas sekolah baru. Saat tahun ajaran baru, dia pecah tabungannya. Duitnya ada berapa, buat beli barang yang dia inginkan. Kalau kurang, baru papahnya nombokin. Kalau sisa, sisanya ditabung. Barang yang dibeli haruslah barang yang berguna, baik jangka pendek maupun jangka panjang.

Adiknya (Kezia) adalah saudaranya. Amanda dan Kezia kami ajari untuk saling menyayangi. Amanda harus menjadi contoh yang baik bagi Kezia. Jauh2 hari sebelum Kezia lahir, kami telah memberitahukan kepada Amanda, hak dan kewajibannya sebagai seorang kakak. Dia berhak untuk menegur adiknya, jika adiknya melakukan kesalahan. Tapi dia berkewajiban untuk memberi contoh yang baik bagi adiknya. Kalau adiknya melakukan kesalahan, tapi ternyata karena hasil contekan dari kakaknya, keduanya musti menghadap hakim (papah dan mamahnya). Wakakakaa….

Kezia (hampir 2 tahun) sedang kami ajari hak dan kewajibannya sebagai seorang adik. Dia harus menghormati kakaknya. Dia harus sayang dan support kakaknya. Kalau diberitahu kakaknya, harus nurut. Keduanya engga boleh berkelahi, tidak boleh saling menyakiti dan melukai.

Bagaimana dengan papah mamahnya ? Well…. papah mamahnya Amanda dan Kezia memiliki kewajiban untuk meminta maaf secara terbuka kepada anak2nya jika melakukan kesalahan, tidak boleh berbohong kepada anak2nya, harus memberikan perlindungan dan teladan yang baik kepada anak2nya. Anak2 berhak untuk komplain jika dirasa papah mamahnya sudah menyimpang dari jalur. Wekekekekekee…. demokratis kan keluargaku ? Tapi ada aturan baku yang tidak boleh dibantah. Papah adalah kepala keluarga. Semua harus tunduk dengan aturan2 yang disahkan oleh papah. Wekekekeke…. Tapi papahnya anak2 berat tanggungjawabnya boooo….. wekekekekeke…..

Wah… kok malah ngelantur….hehehehe… kembali ke topic semula…. jangan menilai seseorang dari kulit luarnya. Kita tidak tahu siapa dia sebenarnya. Aku melatih diriku untukmenilai manusia secara utuh. Bukan dari apa merk mobilnya, bukan dari seperti apa rumahnya, bukan dari dekil atau wanginya, apalagi dari jumlah credit cardnya….wekekekekeke….. Ada banyak nilai2 luhur yang bisa ditemukan dalam diri seorang yang paling jahat sekalipun. Bagaimana dia tertawa, bagaimana dia menikmati lauk di hadapannya, bagaimana ekspresi kesalnya dia saat kecele… ada banyak hal yang luar biasa, yang tidak ternilai dengan materi. Cobalah explore lebih dalam…. dan kau akan menemukan banyak hal spektakuler… dalam diri seorang manusia…. There are God’s mercies around you !

2 Responses so far »

  1. 1

    Hendy said,

    October 19, 2008 @ 10:53 am

    wah…papa yang baik. Sukses yah ko buat everything (thesis, keluarga, dll). God’s grace always with you. GBU ^^ setuju ko, menilai orang harus dari inti dirinya. Jia yo..

  2. 2

    Kades Chung Yuan said,

    October 19, 2008 @ 10:01 pm

    Wah….. halo Hendy…. xie2… xie2…. masih banyak hal yg mesti aku pelajari dlm hidup ini. Sebagai manusia biasa, pasti aku juga ada kesalahan bahkan kejatuhan. Tapi bagaimana aku bisa bangkit lagi dan tidak mengulang kesalahan yang sama, itu yang paling penting. Sukses buat Hendy…. ya studynya… masa depannya… pelayanannya…. amin….

Comment RSS · TrackBack URI

Say your words