5K… ini alami lho….
Apa tuh 5K ? Kebersihan, kerapihan, keindahan, ke….. hush ! bukaan…. 5K yang gue kamsud di sini adalah siklus alami dari sebuah hubungan / relasi. Entah itu relasi antar manusia, relasi / hubungan kerja, relasi organisasi dengan anggota2nya, dan hampir semua jenis relasi, memiliki siklus alami 5K ini. Ayo kita cek satu per satu….
K yang pertama adalah Kagum. Semua relasi diawali dengan rasa kagum. Si A kagum dengan perusahaan X, sehingga ingin sekali menjadi karyawan di sana. Si B kagum sekali dengan gereja Y, sehingga rela meluangkan waktu lebih banyak untuk aktif di sana. Si C kagum dengan mbak Z, sehingga dia mulai PDKT. Dan sebagainya….
K berikutnya adalah Kaget. Setelah masuk lebih dalam, tahu lebih banyak, si A, si B, dan si C menjadi kaget. Kok engga kayak yang gue bayangkan yah ? Dulu perasaan engga begini deh, kok sekarang jadi begono ? Si A kaget, karena ternyata perusahaan X yang dia kagumi, menerapkan akunting ganda, yang jelas2 bertentangan dengan hati nuraninya. Si B kaget, karena ternyata pimpinan gereja Y kebijakan2nya dirasa ngawur. Si C kaget, karena ternyata si mbak Z punya pandangan hidup yang berbeda dengan visi dan misi hidupnya. Dan sebagainya….
K yang ketiga adalah Kecewa. Biasanya mereka (si A, B, dan C) sudah berusaha memberikan toleransi atas ketidakcocokan yang terjadi. Tapi tetap tidak bisa diterima. Mulai muncul perasaan kecewa. Bahkan kadang diwarnai dengan sakit hati. Semakin hari semakin dalam. Sementara itu, banyak pengorbanan yang sudah dilakukan / diberikan. Waktu, tenaga, pikiran, bahkan uang dan materi….
K selanjutnya adalah Kagak Mau Rugi. Ini adalah fase kritis. Yang sudah tidak interest lagi mulai bersiap2 angkat kaki. Tapi engga mau rugi, karena perjuangan dan pengorbanan yang diberikan sudah terlalu banyak. Minimal mereka mau impas. Mulailah korupsi dilakukan, entah korupsi waktu, korupsi duit, korupsi kewajiban (engga melakukan kewajibannya lagi), dan sebagainya. Yang tidak siap untuk angkat kaki, memilih bertahan, namun tetap dengan dasar kagak mau rugi. Soalnya kalau dia angkat kaki, harus mulai dari awal lagi di tempat yang baru. Gaji mulai lagi dari paling bawah, posisi harus mulai lagi dari yang paling bawah, harus mulai membangun network lagi di tempat yang baru, harus ikut training pelayanan lagi di gereja yang baru. Rugi kan ? Dan mereka kagak mau rugi. Mendingan bertahan saja….
K yang terakhir adalah Kabur. Ini siklus terakhir dari sebuah relasi / hubungan. Kabur dengan membawa luka hati, omelan, gondok, ataupun kabur sambil membawa untung hasil korupsi. Selanjutnya di tempat yang baru, dimulailah siklus yang sama.
Well… ini adalah siklus yang alami lho. Makanya sampai ada pepatah : ada waktu perjumpaan, ada waktunya untuk berpisah. Ya karena siklus alaminya memang begitu. Coba cek kalau engga percaya. salah ga apa yang gue paparkan di atas ? Lalu, bagaimana supaya engga jadi kacau begitu ? Kan runyam juga, kalau berumah tangga, alaminya akan berakhir dengan kabur (baca : cerai) begitu….
Menurut point of view (halaaaah) of Mr. BK, kita musti menambahkan K yang keenam, yaitu Komitmen. Komitmen ini harus diletakkan setelah Kecewa. Jadi siklusnya, setelah kecewa, kita harus ingat komitmen kita dalam menjalin relasi / hubungan itu. Komitmen ini akan menahan semua “panah api” (cieeeee) biang runtuhnya sebuah relasi / hubungan. Walaupun perusahaan X engga jujur dalam akuntansinya, tapi aku (si A) berkomitmen untuk terus menyumbangkan karyaku bagi perusahaan ini. Walaupun gereja Y pemimpinnya kacau kayak gitu, tapi aku (si B) tetap berkomitmen untuk memberikan apa yang aku bisa lakukan untuk perbaikan. Walaupun si mbak Z pandangan hidupnya ngaco, tapi aku (si C) tetap berusaha menerima perbedaan itu sebagai warna yang indah dalam relasi kami. Nah….. awetlah relasi itu kalau kita tambahkan komitmen.
Tapiiiii…. lihat2 ya, perusahaan X, gereja Y, mbak Z, atau apapun itu…. kita musti lihat benar2, apakah komitmen kita dapat merubah “kekacauan” yang mereka miliki. Soalnya kan sebelum kita masuk, mereka sudah punya bawaan kacau itu sejak lama. Kalau dirasa komitmen kita akan sia2 dan ga berarti, ya mendingan kita angkat kaki aja (ikut siklus yang alami). Soalnya takutnya kita malah “kerja bakti” seumur hidup tanpa ada perubahan dari lawan relasi kita. Kan sayang dong, hidup kita diserahkan untuk hal2 yang tidak bisa kita ubah.
Intinya, kalau mau “menyerahkan diri” untuk berkomitmen dalam sebuah relasi, lihat dulu lawan relasi kita. Apakah ada baiknya kita memberikan komitmen kita kepadanya, atau malah kita bakalan bunuh diri ? Butuh keberanian untuk memutuskannya….