Bahasa Roh ? Yang bener aja….
Sikiyalabalabalaba…. (ada apa dengan laba-laba ??) …. sikiyalamalamalamalama…. (ada apa kok pake lama ??) ….. syakilelelelelele…. (ada apa dengan ikan lele ??) …… syikididididididi….. (ooo… namanya Didi ??) …. dirabarabadirabaraba…. (busyet…. diraba-raba ???) …..
Begitulah kira2 “bahasa roh” yang sering aku dengar. Aneh memang. Tapi bagi sebagian orang, itu adalah kebanggaan, karena bisa ngomong hal2 yang dia sendiri engga ngerti. Aneh kan ? Mereka bangga, karena dengan ngoceh begitu, artinya mereka telah mendapatkan kepenuhan Roh Kudus. Hah ?? yang bener ??
Belum berbahasa roh = belum kepenuhan Roh Kudus ?
Kata siapa ? Ngaco tuh ! Mari cek di 1 Korintus 12, tentang karunia2 Roh Kudus. Di sana ditulis : karunia roh adalah berkata-kata dengan hikmat, berkata-kata dengan pengetahuan, iman, karunia untuk menyembuhkan, kuasa untuk mengadakan mujizat, karunia untuk bernubuat, karunia membedakan macam2 roh, karunia berkata-kata dalam bahasa roh, karunia untuk menafsirkan bahasa roh (ayat 8 - 10).
Seringkali juga aku dengar, aktivis gereja berkata : kalau kamu belum dapat karunia berbahasa roh, minta ! Pasti diberikan ! Mari cek lagi di ayat 11 : “Tetapi semuanya ini dikerjakan oleh Roh yang satu dan yang sama, yang memberikan karunia kepada tiap-tiap orang secara khusus, seperti yang dikehendaki-Nya“. Jadi terserah ama Roh Kudus, mau ngasih apa ke kita. So, statement “belum bisa berbahasa roh = belum dipenuhi Roh Kudus” itu ngaco dan ngawur banget !
Penggunaan bahasa roh
Hampir setiap kali aku ke gereja yang ada penggunaan bahasa rohnya, seringkali aku bingung, mereka ini pada ngocehin apa sih ? Mereka ngedumel dengan ocehan yang mereka sendiri engga ngerti apa artinya, apalagi aku. Seperti syalalalalalala…. syelelelelelele…. dididididididi….. busyet dah !
Mari cek lagi di 1 Korintus 14 tentang penggunaan bahasa roh. Di sana ditulis : (ayat 2) Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, tidak berkata-kata kepada manusia, tetapi kepada Allah. Sebab tidak ada seorangpun yang mengerti bahasanya; oleh Roh ia mengucapkan hal-hal yang rahasia. (ayat 3) Tetapi siapa yang bernubuat, ia berkata-kata kepada manusia, ia membangun, menasihati dan menghibur. (ayat 4) Siapa yang berkata-kata dengan bahasa roh, ia membangun dirinya sendiri, tetapi siapa yang bernubuat, ia membangun Jemaat. (ayat 5) Aku suka, supaya kamu semua berkata-kata dengan bahasa roh, tetapi lebih dari pada itu, supaya kamu bernubuat. Sebab orang yang bernubuat lebih berharga dari pada orang yang berkata-kata dengan bahasa roh, kecuali kalau orang itu juga menafsirkannya, sehingga Jemaat dapat dibangun. (ayat 6) Jadi, saudara-saudara, jika aku datang kepadamu dan berkata-kata dengan bahasa roh, apakah gunanya itu bagimu, jika aku tidak menyampaikan kepadamu penyataan Allah atau pengetahuan atau nubuat atau pengajaran ? (ayat 7) Sama halnya dengan alat-alat yang tidak berjiwa, tetapi yang berbunyi, seperti seruling dan kecapi–bagaimanakah orang dapat mengetahui lagu apakah yang dimainkan seruling atau kecapi, kalau keduanya tidak mengeluarkan bunyi yang berbeda ? (ayat 8 ) Atau, jika nafiri tidak mengeluarkan bunyi yang terang, siapakah yang menyiapkan diri untuk berperang ? (ayat 9) Demikianlah juga kamu yang berkata-kata dengan bahasa roh: jika kamu tidak mempergunakan kata-kata yang jelas, bagaimanakah orang dapat mengerti apa yang kamu katakan? Kata-katamu sia-sia saja kamu ucapkan di udara !
Nah looo…. Paulus aja dengan tegas berkata, kalau engga ada yang bisa menafsirkan, jangan mengucapkan bahasa roh dalam perkumpulan (baca : kebaktian/persekutuan). Itu Paulus lho yang ngomong, bukan Budhi.
Trus, gimana dong pemakaian bahasa roh yang benar ? Berikut ini petunjuk dari Paulus. (ayat 15) Jadi, apakah yang harus kubuat? Aku akan berdoa dengan rohku, tetapi aku akan berdoa juga dengan akal budiku; aku akan menyanyi dan memuji dengan rohku, tetapi aku akan menyanyi dan memuji juga dengan akal budiku. (ayat 16) Sebab, jika engkau mengucap syukur dengan rohmu saja, bagaimanakah orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat mengatakan “amin” atas pengucapan syukurmu ? Bukankah ia tidak tahu apa yang engkau katakan ? (ayat 17) Sebab sekalipun pengucapan syukurmu itu sangat baik, tetapi orang lain tidak dibangun olehnya. (ayat 23) Jadi, kalau seluruh Jemaat berkumpul bersama-sama dan tiap-tiap orang berkata-kata dengan bahasa roh, lalu masuklah orang-orang luar atau orang-orang yang tidak beriman, tidakkah akan mereka katakan, bahwa kamu gila ? (ayat 27) Jika ada yang berkata-kata dengan bahasa roh, biarlah dua atau sebanyak-banyaknya tiga orang, seorang demi seorang, dan harus ada seorang lain untuk menafsirkannya. (ayat 28) Jika tidak ada orang yang dapat menafsirkannya, hendaklah mereka berdiam diri dalam pertemuan Jemaat dan hanya boleh berkata-kata kepada dirinya sendiri dan kepada Allah.
Yeap ! Aku setuju banget dengan si Paulus ini. Jangan mengoceh dengan serampangan di dalam perkumpulan jemaat. Engga ada yang terbangun kok. Yang aku tahu malahan, setelah keluar dari kebaktian, si orang yang berbahasa roh tadi mengacuhkan aku. Nah, apa engga kontradiktif itu namanya ?
Bahasa roh = bahasa lidah ?
Bagaimana dengan bahasa lidah, seperti yang terjadi saat turunnya Roh kudus (Pentakosta) ? Come on…. ayo kita baca di Kisah Para Rasul 2. Saat itu para rasul engga ngoceh silabalabalaba …. sikiyalamalamalama … mereka juga engga ngoceh dengan bahasa yang tidak dimengerti manusia lho ! Tapi mereka yang asli orang Galilea, berbicara dengan bahasa Arab, Mesopotamia, Mesir, Libia, dll. Jadi engga ngoceh dalam bahasa alien ! Coba dibaca di (ayat 7) Mereka semua tercengang-cengang dan heran, lalu berkata: “Bukankah mereka semua yang berkata-kata itu orang Galilea ? (ayat 8 ) Bagaimana mungkin kita masing-masing mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri, yaitu bahasa yang kita pakai di negeri asal kita : (ayat 9) kita orang Partia, Media, Elam, penduduk Mesopotamia, Yudea dan Kapadokia, Pontus dan Asia, (ayat 10) Frigia dan Pamfilia, Mesir dan daerah-daerah Libia yang berdekatan dengan Kirene, pendatang-pendatang dari Roma, (ayat 11) baik orang Yahudi maupun penganut agama Yahudi, orang Kreta dan orang Arab, kita mendengar mereka berkata-kata dalam bahasa kita sendiri tentang perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah”.
So…..
So…. buat aku sih simple aja. Mereka yang ngoceh di dalam kebaktian itu, perlu baca lagi ayat2 di atas. Aku lebih mengerti orang yang berkata “Tuhan, aku mengasihiMu…. aku memujaMu….” dibanding dengan syikiyalabalabalaba…. dirabarabaraba…. yang bener aja ….. Ayo, yang merasa lebih suci, bukan bayi rohani lagi, sudah dewasa rohani, boleh kirim comment !!





