Selamat jalan, mbah Darmo…

Aku punya seorang nenek, tepatnya beliau adalah tantenya mamiku. Aku biasa memanggilnya dengan mbah Darmo. Rumahnya hanya berjarak 4 rumah dari rumahku. Suaminya pensiunan TNI, dan sudah lama meninggal dunia. Saat suaminya mbah Darmo meninggal, aku masih SD. Saat itu aku didatangi mbah Darmo kakung dalam mimpi, mengajak aku pergi jauh. Tapi dalam mimpi itu, aku menolaknya. Kemudian beliau pamitan kepadaku dalam mimpi itu.

Aku dan keluargaku memang cukup dekat dengan mbah Darmo dan suaminya. Mereka tidak punya anak. Mamiku disayangi mereka. Kami sering main ke rumah mereka. Dulu mereka memelihara kambing di rumah. Aku dan cicikku sering bermain dengan kambing2 mereka. Ada yang coklat, hitam, dan putih. Kalau beranak, kami langsung memberi nama ke anak2 kambing itu. Hahahaha… masa kecilku yang indah. Di rumah mbah Darmo juga ada pohon jambu air merah dan juga jambu biji. Jarang kan, di kota segede Semarang masih ada rumah yg ada pohon jambunya. Kalau lagi berbuah, mbah Darmo selalu panggil aku dan cicikku untuk panjat pohon jambu, dan memetik buahnya. Puas deh makan jambu. Hahahaha….

Sejak aku STM, mbah Darmo diajak mamiku ke gereja. Sejak itulah, mbah Darmo memeluk agama Kristen. Meskipun di KTP-nya tetap tertulis agamanya yang lama, namun beliau rajin ke gereja. Kesetiaannya teruji dari tahun ke tahun. Sampai akhirnya, karena usia yang sudah sepuh, beliau tidak bisa pergi ke mana-mana. Beliau bilang, meskipun beliau tidak bisa ke gereja lagi, tapi beliau tetap percaya pada Tuhan Yesus. Ketika sakit, mamiku lah yang merawat beliau, memandikan beliau saat waktunya mandi, menyuapi makan, dsb.

Ketika aku sudah dewasa dan bisa menghasilkan uang sendiri, aku sering memberi uang kepada mbah Darmo, sekedar untuk beli2 jajan. Pun ketika aku sudah menikah, istriku juga sering main ke rumah beliau bersama anak2ku.

Januari kemaren, ketika aku pulang Indo, aku menyempatkan diri main ke rumahnya bersama istri dan kedua anakku. Mbah Darmo sudah tidak bisa ke mana-mana, hanya terbaring di kasur saja. Beliau bilang kepadaku, kalau memang Tuhan mau panggil, dia sudah siap. Itu adalah pertemuanku terakhir dengannya.

Hari Jumat yang lalu, istriku mengirimkan sms yang memberitahukan bahwa mbah Darmo telah meninggal dunia. Selama di Taiwan, aku setiap hari berdoa untuknya, juga untuk sodara2 mamiku yang lain yang belum percaya Tuhan. Aku balas sms istriku, dan mengatakan bahwa itu adalah yang terbaik bagi beliau. Biarlah beliau berpulang dengan tenang.

Sabtu berlalu… Minggu berlalu… Senin pagi aku sendirian di kamar, di tengah taifun yang sedang melanda Taiwan, aku tertidur… Aku bermimpi, mbah Darmo datang kepadaku. Beliau kelihatan muda, wajahnya berseri-seri. Kulitnya engga keriput lagi. Tubuhnya kelihatan segar. Beliau pamitan kepadaku dan berkata : “Mbah pergi dulu, sudah dijemput Tuhan Yesus. Terima kasih sudah mendoakan mbah selama ini”. Aku hanya bisa menjawab, “Selamat jalan mbah… sampai bertemu lagi…” Beliau memelukku, kemudian pergi menjauh bersama seorang yang berbaju putih bersih, dengan wajah yang bersinar-sinar…

Selamat jalan Mbah Darmo… sampai bertemu lagi… akan tiba waktuku untuk pergi menyusul, kemana mbah pergi. Tuhan Yesus menjagaimu….

Say your words