Sebuah tragedi kemanusiaan

Membaca berita di Detik.Com hari ini sangat menyesakkan dada saya. Seorang bapak yang tinggal di Bojonegoro, ditahan oleh polisi karena dituduh mencuri kayu jati. Rumah bapak ini memang di sebelah hutan jati. Rumahnya sangat sederhana, berdindingkan anyaman bambu. Karena kebutuhan hidup yang harus dipenuhi, maka bapak ini mencari kayu jati di dekat rumahnya. Beliau memang bukan pencuri kayu yang ulung, ataupun cukong pembalakan liar seperti di Kalimantan. Beliau adalah orang sederhana yang berusaha mencukupi kebutuhan hidup istri dan 2 anaknya di rumah. Karena bukan pencuri ulung, beliau dengan mudah ditangkap polisi hutan. Akhirnya bapak ini ditahan di Polres Bojonegoro selama 3 hari, kemudian dititipkan ke rutan Bojonegoro.

Ini adalah hari ke 3 beliau ditahan di rutan sebagai tahanan titipan. Seandainya beliau orang yang punya uang, pasti dia bisa mengajukan penangguhan penahanan. Hari yang cerah ini, istri anaknya perempuan yang berusia 6 tahun datang dari desa ke rutan karena si anak kangen bapaknya. Di depan pintu rutan, duduk 2 orang polisi bersenjata yang akan mengawal seorang tahanan ke tempat sidang di pengadilan negeri Bojonegoro. Entah apa yang terjadi, senjata si polisi terjatuh, dan menyalak… DOR !

Si ibu dan anak kecil ini hendak turun dari becak. Tiba2 si anak tersungkur jatuh. Si ibu hendak menolong, tapi dirasanya pinggangnya sakit sekali. Si ibu ikut tersungkur. Ternyata peluru yang muntah dari senjata polisi tersebut menghantam 3 orang : seorang napi yang dikaryakan sebagai tukang parkir, menembus dada si gadis mungil yang sudah tidak sabar memeluk bapaknya, dan akhirnya peluru itu bersarang di pinggul si ibu.

Hari yang indah dan ceria bagi si gadis kecil yang rindu ketemu bapaknya, berakhir sudah. Si gadis kecil sudah kembali ke pelukan Bapak di sorga. Si gadis kecil beserta ibu dan korban lainnya segera dibawa ke rumah sakit. Si bapak yang menunggu dengan berdebar2 untuk bertemu dengan putrinya, tidak tahu bahwa putrinya sudah pergi untuk selama-lamanya.

Kepala desa datang ke kamar mayat untuk mengambil jenazah si gadis kecil. Si bapak akhirnya dijemput polisi, diberi penangguhan tahanan sampai batas waktu yg tidak ditentukan, dan diantar pulang ke rumah untuk menghadiri pemakaman gadis kecilnya. Sementara si gadis kecil disemayamkan untuk dimakamkan, si ibu sedang menjalani operasi pengambilan peluru. Saat tersadar dari bius, si anak sudah masuk ke liang lahat.

Simpati dari seluruh tetangga bisa menjadi cermin, betapa bapak ini sebenarnya bukanlah orang jahat. Beliau mencari kayu di dekat rumahnya hanya untuk memenuhi kebutuhan makan keluarganya. Namun hal itu harus dibayarnya dengan kehilangan putri kecilnya untuk selama-lamanya. Tak kurang, Kapolres Bojonegoro ikut menitikkan air matanya saat si gadis kecil diantar ke peristirahatannya yang terakhir. Si bapak telah terluka begitu dalam, dan tidak ada yang bisa menghiburnya. Pun si ibu mengalami penderitaan yang panjang akibat terjangan peluru nyasar, dan beliau harus kehilangan putri kecilnya.

Mungkin si gadis kecil sedang tersenyum dan hatinya sedang berbunga2 saat turun dari becak, membayangkan sebentar lagi akan bertemu bapaknya. Dan mungkin saat dia ambruk ke tanah, senyum itu masih ada di wajahnya. Sebuah tragedi kemanusiaan telah terjadi. Dan saya menangis saat menulis blog ini. Senyum si gadis kecil itu menjadi pendorong semangat bagi saya, untuk terus berkarya sebagai dosen, untuk terus mendidik generasi muda bangsa ini, supaya mereka bisa mandiri, memiliki kemampuan untuk survive, dan mengurangi kemiskinan. Supaya tidak terjadi lagi, tragedi kemanusiaan lainnya di kemudian hari.

Selamat jalan gadis kecil. Engkau telah menjadi malaikat bagi banyak orang. Saya menundukkan kepala, ikut berdukacita sedalam2nya. Tuhan memberkati keluarga yang sedang berduka. Amin !

1 Response so far »

  1. 1

    Free.Bird said,

    September 19, 2008 @ 12:54 am

    Koreksi : Senjata bukan terjatuh, tapi sedang dicoba sebelum tugas dilaksanakan. Seharusnya senjata dicoba dengan diarahkan ke atas, tapi kali ini terjadi kesalahan prosedur dengan diarahkan sejajar posisi kepala. Selengkapnya : http://surabaya.detik.com/read/2008/09/19/135913/1009111/475/bukan-lalai-bripda-supriyanto-terancam-hukuman-berat

Comment RSS · TrackBack URI

Say your words