Ini gereja, bukan PT. Budhi Kristianto !
Saya mencatat sebuah pernyataan yang menarik dari MenKo Perekonomian RI, Ibu Sri Mulyani, beberapa waktu yang lalu. Saat itu sedang marak2nya pembahasan tentang krisis energi di Indonesia. Sri Mulyani meminta kepada DirUt PLN untuk memberikan data2 tentang penggunaan listrik di kantornya untuk dievaluasi. DirUt PLN menjanjikan akan memberikan data2 tsb pada hari X. Tapi sampai 4 hari lewat, belum juga diberikan. Sri Mulyani marah sekali, dan mengeluarkan pernyataan yang menarik : “Ini negara, bukan PT. Sri Mulyani. Kalau PT. Sri Mulyani, mungkin sudah saya pecat dia”.
Ini menarik, karena secara struktural, PLN berada beberapa level di bawah kendali Sri Mulyani. Namun demikian, sebagai orang yang berkuasa, Sri Mulyani tidak main pecat kepada bawahannya yang kurang profesional dalam bekerja.
Di dalam gereja Tuhan, juga sering kali terjadi hal2 seperti itu. Di Semarang contohnya, sebuah gereja yang cukup besar dengan ribuan jemaat, tiba2 menjadi terpecah belah gara2 manuver seorang pendeta mudanya yang punya ide macam2. Secara kasat mata, idenya bagus2 dan merupakan penerobosan yang kreatif dan luar biasa. Tapi dalam proses pelaksanaannya, terjadi banyak benturan. Dan atas nama profesionalisme, maka pendeta muda itu dengan berani berkompetisi dengan sesepuh2 gereja yang lain. Akibatnya, sesepuh2 gereja mulai angkat kaki satu per satu. Yang masih bertahan, memilih untuk menghindari konflik. Pendeta muda itu memang smart. Tapi dia lupa, bahwa gereja Tuhan bukan PT. Pendeta Muda. Gereja Tuhan tidak bisa diperlakukan seperti organisasi dunia. Gereja Tuhan harus berlandaskan kasih. Apapun program, visi, dan misi sebuah gereja, tidak boleh meng-over-rule pondasi yang ada, yaitu kasih. Gereja adalah tempat berkumpulnya anak2 Tuhan untuk bersekutu, untuk saling berbagi kasih, untuk saling menopang satu dengan yang lain. Sering kali gereja tergelincir dalam melayani program, bukan melayani Tuhan. Akibatnya, banyak benturan terjadi di sana sini, dan jemaat2 yang tidak betah mulai keluar dan pindah ke tempat lain. Sementara yang memegang kendali berprinsip, kalau tidak cocok dengan visi misiku, silakan cari gereja lain yang cocok dengan anda.
Saya pribadi pernah melakukan hal yang menurut saya amat sangat bodoh. Saat itu saya kelas 3 SMP, menjabat sebuah jabatan rohani yang cukup mentereng di Komisi Remaja gereja saya, sebuah gereja yang besar di Semarang. Jemaat yang hadir setiap minggunya sekitar 3000 orang. Waktu itu saya memiliki program X yang sudah disepakati untuk dijalankan. Di tengah jalan, saya merasa ada anggota saya yang tidak becus bekerja. Saya mendatanginya sepulang sekolah, menegur dia, dan akhirnya setelah bersitegang, saya “memecat” dia dari program saya. Program itu memang terlaksana dengan sukses, tapi saya merasa itu sebuah kegagalan yang besar, karena dibalik program itu, saya sudah menyakiti saudara saya seiman. Apakah saya ini, sampai saya berani berlaku sebagai tuan atas saudara seiman saya sendiri ? Sementara di hadapan Tuhan, kami sama2 hamba. Pasti Tuhan sangat sedih melihatnya. Dan saya sangat menyesali kejadian itu, dan saya pegang sebagai pelajaran berharga, sampai saat ini.
Demikianlah… gereja Tuhan bukanlah PT. Bpk Pendeta A. Gereja Tuhan bukanlah PT. Ibu Pendeta B. Bukan pula PT. Majelis C. Bukan PT. Aktivis D. Apalagi PT. Budhi Kristianto. Gereja Tuhan adalah tempat untuk jemaat Tuhan bersekutu, berkumpul dan mencari Tuhan. Dan gereja Tuhan tidak bisa diperlakukan seperti organisasi dunia. Reward and punishment tidak tepat diterapkan di gereja, karena semua anggota jemaat maupun pemimpin gereja adalah sama2 hamba di hadapan Tuhan. Apalagi sampai terjadi perpecahan hanya karena melayani visi dan misi yang dirumuskan pimpinan.
Note : picture from inmagine.com