Tuhan + Pelajar = IRONIS
Akhir2 ini gerakan anak2 muda di gereja sangat luar biasa. Mereka berapi2 dalam pelayanan, benar2 all out untuk Tuhan. So, luar biasa dong ? Tapi, tunggu dulu… saya melihat ada hal yang tidak beres…
Anak2 muda seperti anak panah di tangan pahlawan, demikian kata Bible. Mengapa anak2 muda yang jadi subyek ? Banyak kata yang bisa melukiskannya, tapi intinya sama. Anak2 muda masih murni, mudah diarahkan. Orang lain bilang, mudah dibimbing. Bahasa agak sopan dikit, mudah dibentuk. Bahasa agak norak dikit, gampang ditipu. Agak halus dikit, mudah dikasih tahu. Dan sebagainya…. Intinya sama, anak2 muda sedang berusaha mencari jati diri dan tujuan hidupnya. Kalau diarahkan dengan baik, menjadi baik. Kalau dipengaruhi yang buruk, akan menjadi berandalan. Selain mudah dibentuk, anak2 muda juga punya semangat yang luar biasa, energi yang tidak pernah berkurang, dan waktu yang cukup luang (karena tidak perlu memikirkan kebutuhan hidup, rata2 masih disupport ortunya). So, that’s why, anak2 muda jadi begitu luar biasa.
Banyak hamba2 Tuhan berkata, anak2 muda akan dipakai Tuhan secara luar biasa. Hmm… I admit it. Tapi pertanyaannya : anak muda yang seperti apa ? Apakah semua anak muda ? Mari lihat di lapangan, apa yang nyata2 terjadi. Saya menemukan ada banyak sekali anak2 muda yang begitu aktif di gereja, full pelayanan, berbahasa Roh, waktu doa yang begitu padat, tapi wait… di sekolah kok sering jadi juru kunci ? Nilainya berantakan, kebanyakan juga pas 6,0 sering ngantuk di kelas, dijauhi teman karena dianggap terlalu suci, dsb. What’s happening ?
Selidik punya selidik, saya menyimpulkan (ini kesimpulan saya sendiri lho… dilarang protes… hehehehe) bahwa anak2 muda ini memiliki pandangan yang salah tentang pelayanan dan kehidupan bergereja. Dan bisa dipastikan, pembimbing mereka di gereja lah yang memberikan arahan yang salah. Kok bisa ? Ya lah. Kebanyak anak2 muda memegang kata2 sakti ini : Tuhan tidak mencari yang MAMPU, tetapi mencari yang MAU. Yang penting, hati tulus, nanti Tuhan yang MEMAMPUKAN. Well… jadilah seperti kenyataan yang ada, gereja dipenuhi oleh orang2 yang hanya MAU, tapi sebenarnya TIDAK MAMPU. Tidak mampu dalam hal apa ? Well… anak2 muda itu kan pelajar. Seharusnya mereka MAMPU menjadi pelajar2 yang terbaik, dengan nilai2 terbaik, pergaulan terbaik, memiliki pengaruh yang baik di lingkungannya. So, kasihan dong Tuhan kita, cuma punya anak2 muda yang kebanyakan TIDAK MAMPU… alias bukan yang memiliki kualitas nomer satu. Bukankan seharusnya buat Tuhan itu yang terbaik, yang juara, yang paling pintar, yang paling dihormati oleh guru dan teman2nya ?
Anak2 muda yang model begini (MAU tapi TIDAK MAMPU) menurut saya benar2 membuat malu Tuhan. Mereka habis2an di gereja, pelayanan, berbahasa Roh, jam doa yang begitu padat, baca Bible di mana saja termasuk di kereta dan bus, tapi nilai2nya berantakan. Tapi masih saja mereka punya kata2 sakti untuk hal ini : I’m doing my best, God will do the rest. Alias…. aku ngerjain apa yang sebisa mungkin aku kerjain, nanti Tuhan yang beresin sisanya. Parahnya lagi, "sebisa aku" itu ternyata sama sekali ga memenuhi standard. So, Tuhan musti beresin sisanya. Bukannya itu mencobai Tuhan namanya ? Kata2 sakti yang paling sakti adalah : yaah…. ini semua sudah kehendak Tuhan. Ya sudahlah. Tuhan toh ikut campur tangan dalam segala hal. Kalau jadinya cuma begini, ya.. ini juga Tuhan yang mau. Waduuuuh… kacian deh lu Tuhan…..
Saya berpendapat bahwa anak2 muda itu bisa menjadi begitu, karena pembimbing mereka di gereja juga dulunya ga punya kualitas yang mumpuni, alias cuma MAU tapi GA MAMPU. Mau jadi hamba Tuhan, tapi kualitas akademisnya di bawah rata2. Mau jadi hamba Tuhan, tapi nilai2nya ga bagus. Akibatnya, setelah menjadi hamba Tuhan, mereka juga membawa bibit yang sama, yaitu mencari yang MAU tapi seringkali GA MAMPU. Di saat mereka mendapati kondisi yang kurang menguntungkan, mereka TIDAK MAMPU menghandle masalah yang ada secara CERDAS. Misalnya, ada anak2 muda yang kritis, pembimbing2 "bermasalah" itu akan mencap mereka sebagai pembangkang, tidak mau taat pemimpin, tidak sevisi, dan sebagainya. Padahal kenyataannya adalah, pembimbing2 itu tidak memiliki kemampuan untuk menghandle masalah secara CERDAS. Bukannya perbedaan pendapat itu untuk memperkaya pelayanan kita ? Tapi di lapangan, yang terjadi adalah, anak2 muda yang pintar dan kritis, disingkirkan. Benar2 IRONIS.
Saya pribadi punya pendapat, seharusnya pemimpin2 gereja memberlakukan syarat2 bagi orang2 yang mau melayani sebagai berikut : orang2 yang TERBAIK di bidangnya, orang2 yang PALING PINTAR di bidangnya, orang2 yang memiliki kualitas NOMER SATU, dan tentu saja yang TAKUT AKAN TUHAN. Dengan demikian, yang menjadi leader di kelompok2 pelayanan adalah orang2 yang terbaik, dan yang akhirnya kalau ada di antara mereka yang terpanggil masuk ke sekolah theologia, adalah juga orang2 yang TERBAIK.
Mari mencontoh nabi DANIEL. Disebutkan di Bible, Daniel adalah YANG TERBAIK di seluruh Babel. Juga Sadrakh, Mesakh, dan Abednego, mereka semua orang2 TERBAIK di Babel. Dan melalui mereka, nama Tuhan dipermuliakan DI DEPAN RAJA. So, mulai sekarang, ganti sloganmu itu. Tuhan bukan mencari orang yang cuma MAU. Tapi ingat baik2 sobat…. Tuhan mencari orang2 yang MAU dan MAMPU. OK ??
Hengki said,
August 22, 2008 @ 9:50 am
ko…aku cuma ingin ralat, klo GOD menggunakan kita yang TIDAK MAMPU dan MAU menjadi SEMPURNA ketika kita mau berjuang bersama DIA, klo gitu janji GOD buat kita itu apa ? aku percaya sekali dengan janji GOD, dan aku sangat ingin berusaha bersama DIA.
Pesan ko2 ini aku tanggapi dengan ucapan ‘terima kasih’ karena kritik itu bersifat MEMBANGUN, dan pengkritik itu pantas di acungkan JEMPOL karena keberaniannya…
thx yah ko, GOD BLESS
Budhi said,
August 23, 2008 @ 6:45 pm
Tanggapan ini bukan cuma untuk menanggapi Hengki ya, tapi buat semua yang sudah merespons artikel ini baik lewat email, chat, maupun pasang status di MSN/YM masing2…
Wah, ternyata banyak yang ga menangkap isi message-ku ya ? Cuma ditangkap secara hitam dan putih saja. Hehehe… Artikel ini cuma cermin saja bagi semuanya termasuk aku sendiri. Cek, kalau kita seperti yang aku tuliskan, artikel ini jadi cermin untuk memperbaiki diri. Kalau kamu tidak seperti yang aku tulis, lewati aja…
Tentu saja aku menyadari, bahwa tidak ada pelayan Tuhan yang benar2 MAMPU/SEMPURNA di hadapan Tuhan saat dia dipanggil untuk melayani. Apa sih kita ini, sampe berani bilang “AKU MAMPU”? Pesan moral dari artikel ini adalah : ubah mind-set kita (kalau ada) yang selama ini berpikir “yang penting kerja buat Tuhan nomer satu, urusan duniawi seperti sekolah, hubungan dengan keluarga, dsb urusan kedua”. Rapor di gereja dan rapor di luar gereja, harus seiring sejalan, sama2 memuaskan. Apa artinya rapor di gereja bagus, kalau rapor di luar gereja berantakan ? Kesaksian kita akan sangat mudah dipatahkan bukan ? Message-nya cuma itu.
Soal selama pelayanan kita semakin DIMAMPUKAN oleh Tuhan, itu sudah otomatis kok, sudah seharusnya. Karena selama pelayanan, kita juga disempurnakan. So, jangan salah tangkap ya.
Intinya cuma menegaskan kembali kata2 Paulus : “Aku juga mengendalikan diriku sedemikian rupa, supaya setelah semuanya selesai, jangan aku sendiri ditolak”.
Thank you buat semua responsenya… GBU all…
Footnote : Telaahlah pendapat orang lain tanpa emosi, pahami alasan mengapa orang itu berpendapat demikian. Itu akan menambah luas wawasanmu, dan menjadikan engkau semakin bijak.
Daniel said,
August 23, 2008 @ 7:22 pm
Sebenarnya saya menyaksikan sendiri fenomena ini pada teman saya Budhi (a.k.a Duhdi;a.k.a Buhdi). Tahun pertama beliau disini…..Betul seperti anak panah yang melesat dari busur pahlawan dengan kecepatan yang mengagumkan, sayangnya meleset dari target.
Dia “dipakai secara luar biasa” di gereja tapi ironisnya di sisi akademis beliau juga “dibantai secara luar biasa”. Saya sendiri sebagai tetangga depan meja cukup khawatir dengan keadaannya waktu itu. Pencapaiannya di 501 Ltd. benar - benar bertolak belakang dengan pencapaiannya di Church UnLtd. sehingga President of 501 Ltd. memandang sinis Church UnLtd. Bagi Sdr. Budhi saya rasa akan sulit untuk bersaksi dengan keadaannya saat itu.
Syukurlah sekarang Sdr. Duhdi sudah dipulihkan keadaannya sekarang, pencapaiannya di 501 Ltd. semakin baik sejak dia memerdekakan sebagian waktu dan tenaganya di Church UnLtd.
Sekian komentar dari saya, semoga berkenan. Apabila ada yang merasa tersinggung….berarti saya sukses, emang niat nyinggung koq.
Budhi said,
August 23, 2008 @ 9:05 pm
Wah… ternyata prof sempat memandang sinis gereja gara2 performa gue yang menurun ya ? Wah, untung gue segera sadar sikon. Waktu itu juga pergumulan bro, antara pelayanan dan study. Tapi setelah gue timbang2 lagi, akhirnya gue mutusin untuk konsen di study. Pertama : gue di Taiwan ini untuk belajar, bukan untuk yang lain. Kedua : belajar butuh waktu dan tenaga yang cukup. So, gue ga mungkin bisa belajar dengan baik kalau waktu dan energi gue tersita banyak untuk hal2 yang lain. Gue ngalami sendiri, otak ini musti direfresh, baru bisa maju lagi. Dan itu butuh waktu dan energi yang cukup. Kalau badan cape, stack deh ini otak. So, gue putusin untuk kurangi waktu di tempat lain, untuk lebih dapet mood belajarnya.
Gitu deh, semua tulisan ini juga berdasarkan pengalaman gue sendiri. Gue sebagai pelajar (jadi gue bisa ngomong kondisi yang ada karena gue ngalami sendiri), juga gue sebagai dosen (gue dah ngajar sejak tahun 2004 lho… mahasiswanya juga dah ribuan… hehehehe… jadi gue juga liat pengalaman mahasiswa2 gue yang lain).
So, gitu deh… tulisan2 gue semata2 untuk koreksi aja bagi semuanya, termasuk gue sendiri, agar lebih baik dalam segala hal. Soal penafsiran, kembali ke masing2 pembacanya aja. Harapan gue sebagai penulisnya sih, biar tulisan gue jadi berkat. GBU !
Budhi said,
August 23, 2008 @ 9:28 pm
Klarifikasi tambahan :
tulisan2 saya tidak ditujukan untuk sebuah kelompok saja, sehingga menunjukkan kesan bahwa ada kelompok yang sedang saya kritik. Please keep in mind, bahwa pembaca blog saya bukan dari satu kelompok saja, list MSN/YM saya bukan cuma dari satu kelompok saja, contact address di email saya juga bukan hanya memuat alamat email dari satu kelompok tertentu saja, dan lingkungan saya bukan cuma dari satu kelompok saja. Tulisan2 saya memuat beragam topik, mulai dari kesaksian hidup saya, pendapat2 saya tentang ekonomi, tentang pendidikan, kesehatan, finansial, dan sebagainya.
Blog saya terbuka untuk dibaca siapa saja, mulai dari teman2 pelajar, dosen2 dan teman2 peneliti, teman2 mahasiswa, teman2 mailing list, teman2 pegawai negeri, temen2 gereja, relasi2 bisnis, dan pihak2 lainnya. Jadi jangan sampai timbul anggapan, bahwa saya sedang mengkritik satu kelompok anak muda saja.
Kalau tulisan2 saya berguna bagi anda, silakan ambil manfaatnya. Kalau tidak, terima kasih sudah mampir ke blog saya. Hehehehe…
Hengki said,
August 26, 2008 @ 9:57 am
hehehe…
oh gitu toh, aku dari pertama memang sudah merasa klo yang tertulis itu sungguh aneh rasanya…. aku malah pengen tulis itu cuma tuk melihat respon ko2, karena aku menganggap ko2 tidak seperti itu, dan ternyata YUP. hehehe, yah aku bahasa Indonesia nya jelek dan daya pikirnya jelek, jadi maklumin lah, tapi naluri ku lumayan sih,hehehe. ko2 aku sangat suka sekali dengan yang namanya ‘rendah hati’. aku merasa ko2 punya itu, dan aku sangat kagum dengan orang2 yang rendah hati, yup.
masalah pribadi yang bercahaya / bergaram itu, saya sudah memikirkan lama sekali, dan memang jawabannya saya temukan pada stiap pihaknya sendiri, karena memang pilihan tindakan itu ada pada setiap pribadi, dan sementara sedang dalam proses menjalankan sebuah riset tuk membangkitkan daya juang setiap pribadi tuk jadi terang, termasuk aku thx banget.
Ivanna said,
August 26, 2008 @ 10:34 am
Karena sebuah himbauan, maka saya dengan sukarela ikut meramaikan blog ini.
Apa yang dituliskan pada tulisan ini, tidak bisa dipungkiri memang sering terjadi. Banyak orang yang sulit mencari keseimbangan antara sekolah dan kegiatan gereja. Banyak orang tidak sadar bahwa seringkali Tuhan mengijinkan seseorang sekolah sebagai sarana untuk mencapai tujuan Tuhan dalam hidupnya.
Saya pribadi pernah mendapatkan kertas jawaban tes yang hampir kosong dengan tulisan “I’m doing my best, God will do the rest”. Kalimat itu memang tidak salah. Tetapi, jika digunakan sebagai alasan pembenaran diri tidak belajar (atau sistem kebut semalam), tentu saja menjadi salah.
Bagi orang-orang yang dipercayai oleh Tuhan untuk membimbing anak-anak muda:
Usahakan semaksimal mungkin untuk mengarahkan mereka sesuai dengan tujuan yang Tuhan mau atas hidup mereka (bukan sesuai dengan tujuan dalam diri pembimbing). Jangan patahkan anak-anak panah itu. Percayalah saat engkau membantu anak-anak panah itu mencapai tujuannya, Tuhan akan membuat visimu tercapai.
Ams 22:29