Over price, under value…
Kalau kita perhatikan di sekitar kita, banyak sekali produk2 ditawarkan dengan range bervariasi, dengan kelas/level bervariasi. Bahasa kerennya : segmentasi. Cieeee….. Misalnya, majalah mobil deh. Untuk level paling bawah, dikemas dalam bentuk tabloid/koran. Untuk kelas menengah, dikemas dalam bentuk majalah yang simple. Untuk kelas paling atas/mahal dikemas dalam bentuk majalah tebal dengan kertas yang mahal pula. Padahal isi beritanya sama saja.
Kemaren browsing2 di sebuah forum otomotif, ada orang rela membayar sebuah mobil bekas berumur 2 tahun dengan harga 120 juta, sementara mobil yang sama harga barunya cuma 118 juta tapi inden 3 bulan. Gile bukan ? Bahkan kalau kita jeli, beberapa produk yang awalnya diset untuk menyasar entry level user, harganya sudah masuk ke level menengah. Misalnya Honda City dan Toyota Vios. Kedua produk ini adalah produk global Honda dan Toyota untuk menggarap pasar entry level. Mau tahu harganya sekarang ? Honda City dengan kelengkapan paling komplit sudah lewat dari 200 juta harganya. Untuk Toyota Vios, sama saja, nyaris menyentuh angka 200 juta.
Produsen menangguk untung besar dari kondisi masyarakat yang selalu berjuang untuk naik kelas, dari orang biasa menjadi orang kaya. Dengan mengemas produk dengan strategi marketing yang pas, produsen dapat menaikkan harga produk tersebut, sementara si pembeli juga dengan bangganya membeli dan memamerkan produk tersebut. Padahal produknya ya standar2aja, alias konvensional. Itu yang dinamakan over price, under value. Pembeli membayar harga yang lebih mahal, tapi nilai produk yang didapatnya tidak sebanding dengan harga yang dibayarnya.
Tapi kalau kita lihat kenyataannya, produk seharga berapapun, ludes juga di pasaran. Banyak sekali yang memiliki mobil seharga di atas 2 milyar, meskipun mobil itu hampir tidak pernah dipakai. Kalau dijual, harganya langsung jatuh. Bayangin aja, mobil mewah beli tahun lalu seharga 1,1 milyar kalau dijual sekarang cuma dihargai 700 juta. Alias dalam setahun jatuh 400 juta. Dan apa yang didapat pemiliknya ? Cuma gengsi saja, itupun gengsi semu. Kenapa dibilang semu ? Karena menurut dia orang melihat dengan kagum akan mobil mewahnya, tapi kenyataannya banyak juga orang yang mencibir saja. Kalau orang jawa bilang : Gegeden rumongso… alias GR.
Bagi produsen, strategi harga memang suatu hal yang rumit. Di dalam menentukan harga jual sebuah produk, melibatkan banyak hal, seperti laba, gengsi dan nama besar produsen, segmentasi kelas dibanding dengan kompetitornya, dan sebagainya. Nah, sebagai konsumen, kita dituntut bijak dan cerdik. Jangan sampai kita jadi konsumen yang bodoh, bayar mahal tapi dapat nilai/value barang yang ga sebanding, alias over price under value. Capee deeeeh…..