The Un-bisik-able
Weleh2… apa pula ini ? Ssttt…. jangan keras2 tho…. ini soal bisik mem-bisik-i…. jadi jangan berisik dong…. ssttt….
Bicara soal bisik mem-bisik-i, tentu saja ada orang yang mem-bisik-i yang kemudian disebut pembisik, dan orang yang di-bisik-i. Biasanya orang yang di-bisik-i adalah seorang yang punya kedudukan atau kekuasaan, dan pembisiknya adalah orang2 di sekelilingnya yang berusaha semakin hari semakin dekat dengan Person Number One untuk mendapatkan berbagai macam keuntungan. Istilah kerennya, biar kecipratan berkah. Hehehehe….
Sejarah mencatat banyak sekali penguasa2 dan pemegang kedudukan tertinggi dari seluruh dunia jatuh, karena faktor bisik mem-bisik-i ini. Ambil contoh, Hitler. Ketika memutuskan untuk menyerang Rusia, dia tidak mendengarkan masukan2 dari petinggi2 militernya, melainkan lebih suka mendengarkan bisikan2 dari pembisik2 di sekelilingnya yang membuainya dengan kata2 manis. Akibatnya, dia tidak mendapatkan informasi yang real di lapangan, dan akhirnya pasukan Hitler mengalami kekalahan. Kekalahan itu pulalah yang akhirnya berujung pada kejatuhan Hitler, seorang penguasa besar pada zaman itu.
Pada zaman orde baru, mantan presiden Soeharto juga jatuh karena faktor bisik mem-bisik-i ini. Pembisik2 di sekelilingnya berkata, rakyat masih menghendaki bapak untuk menjadi presiden untuk kesekian kalinya. Akibatnya, pak Harto salah memahami apa yang terjadi di lapangan, dan jatuh.
Apa yang membedakan seorang pembisik (yang akhirnya akan menjerumuskan kita) dengan seorang kawan yang benar2 peduli dengan masa depan kita ? Para pembisik biasanya menyodorkan kepada kita hal2 yang manis, yang tentu saja enak didengar telinga kita, membuat rapor kita (seakan-akan) istimewa, dan akhirnya membuat kita salah memahami kondisi yang terjadi di lapangan. Sebaliknya, seorang kawan yang peduli dengan kita kadang kala akan menyatakan hal2 yang pedas didengar telinga kita, maupun hal2 yang membuat hati kita menjadi panas. Tapi kalau kita telaah pendapatnya dengan kepala dingin, kita jadi mengerti, hal2 penting yang dimaksudkan oleh kawan kita tersebut.
Tukul Arwana, seorang komedian terkenal mengatakan, bahwa sanjungan dan pujian itu adalah musuhnya. Menurut dia, sanjungan dan pujian akan membuatnya terlena, dan akhirnya jatuh. Dan dia mengatakan, saat seorang menjadi besar (sukses), akan ada banyak orang yang mengerumuninya dan menjadi pembisik dengan segala macam tujuan yang dia sendiri tidak tahu. Menurut saya, apa yang dikatakan bapak ini sangat bijak.
Apa yang diungkapkan komedian terkenal ini juga bisa kita pakai sebagai dasar jikalau posisi kita menanjak naik. Di bidang apapun kita berada, ada kalanya kita berada dalam posisi penting dan memegang kendali kekuasaan dalam suatu situasi. Ingat baik2, jangan pernah percaya 100% dengan apa yang disodorkan oleh orang2 di sekeliling kita. Tujuannya, agar kita bisa mengetahui secara pasti, kondisi real yang sedang terjadi di lapangan. Ada orang2 yang berkata, masak saya tidak percaya kepada anak buah saya sendiri, tim saya, orang2 kepercayaan saya sendiri ? Saya tahu pasti kok, anak buah saya gimana orangnya. Hati2 ! Bukannya tidak boleh percaya dengan anak buah. Tapi anak buah memandang situasi yang ada dengan kacamatanya sendiri, dan yang disodorkan kepada kita adalah dari sudut pandangnya sendiri. Kalau kita percaya 100%, artinya kita memandang situasi yang ada menurut pandangan anak buah kita, bukan pandangan kita sendiri. Ini penting !
So, be The Un-bisik-able Number One Person !





