Artikel ini saya kutip dari http://community.kompas.com/read/artikel/519
Toilet I’m in Love
Sigit Kurniawan - Jakarta Barat
Castro couldn’t even go to the bathroom unless the Soviet Union put the nickel in the toilet.
(Richard M Nixon)
Ini bukan sepotong roman cinta. Bukan pula kisah tandingan Eiffel
I’m in Love yang kondang baik novel maupun filmnya itu. Ini kisah nyata
tentang toilet. Tentang sebuah ruangan kecil yang di dalamnya teronggok
benda yang kepadanya kita menggantungkan hidup kita. Setiap saat. Pagi.
Siang. Sore. Malam. 24 jam.
Kisah ini juga tidak berlatar di Perancis. Negara dengan satu menara
keajaiban dunia yang menjulang menembus langit Eropa itu. Ini terjadi
di sebuah kantor di Kelapa Gading, daerah langganan banjir di ibukota,
tempat aku pernah bekerja beberapa tahun silam. Saat sebagian
masyarakat sibuk dan berjubel antri membeli minyak tanah, karyawan di
perusahaan ini sibuk antri masuk toilet. Pasti Anda heran. Asal tahu
saja, satu dari tiga toilet kantor digembok dengan alasan kurang masuk
di akal.
Oya, cerita ini tidak dimaksudkan untuk membuka ‘aib’ kantor itu.
Toh, seluruh nama dan sebutan disamarkan di sini. Kisah ini juga tidak
dimaksudkan untuk menurunkan selera makan para Kokiers di manapun Anda
berada. Baik yang makan nasi kucing, kentang, sagu, gudeg, burger,
spaghetti, sandwich, pizza, salad, hot dog, bratwurst, corn flakes,
kebab, dan sebagainya. Ini adalah kisah toilet. Kisah kehidupan.
“Ini akibat dari ulah kalian!” cetus seorang manager yang nimbrung makan siang kami di foodcourt basement sebuah mal.
“Halah, klasik banget. Kenapa digembok toiletnya?”
“Apa tidak ada cara manajemen yang lebih wise?”
“Toilet itu kotor. Banyak tisu. Pernah ada yang tidak menyiram. Noda sabun di mana-mana.”
“Bukannya memang rusak.”
“Iya, aku lihat Julia naik turun tangga dengan tangan menggenggam
pembalut. Sampai di atas, masih harus ngantri. Jengkel, ia turun
lagi.”
“Tutup saja semua toilet!”
“Kalo gitu, belikan kami pampers tiap hari!”
“Ini merupakan crime against humanity!”
Begitulah rekaman obrolan penuh seloroh di sela-sela makan siang.
Obrolan ini sempat membuat lalu lintas makan jadi seret. Gumpalan
daging ayam bakar bercampur sayur asem dan nasi seakan macet mendadak
di kerongkongan. T-e-r-s-e-n-d-a-t. Sepertinya satu gelas jus tomat
pun tidak sanggup mendorongnya menuju lambung. Bukan jijik dengan
toiletnya. Tapi dengan tindakan menggembok ruang tempat kami tiap hari
melepas ampas-ampas biologis itu. Dongkol campur gemes. Kantor itu
punya empat lantai. Toilet malang itu berada di lantai 4. Kantor ini
dihuni oleh sekitar 60 mahkluk berkaki dua dan berjalan tegak yang
bernama karyawan.
Ketiga toilet di kantor itu dilengkapi dengan si leher angsa dan
tombol flush. Toilet malang itu menjadi toilet paling besar. Tapi,
entah kenapa toilet ini sepertinya menjadi toilet favorit karyawan.
Saat toilet ini resmi ditutup, di dalam batok kepalaku terbayang
pita plastik warna kuning milik kepolisian bertuliskan “Do Not Cross!”
melingkari ruangan yang mendadak keramat itu. Seperti sebuah tempat
kejadian perkara (TKP) di mana di ruangan itu baru saja terjadi
pembunuhan sadis. Atau di ruangan itu, seorang pemuda tanggung
ditemukan mati overdosis dengan jarum suntik masih menancap di lengan.
Atau di ruangan itu, seorang nenek ditemukan tewas gantung diri. Dan
sebagainya. Dan sebagainya.
Nah, di lantai 4, tersisa satu toilet kecil seluas 44 ubin persegi.
Tepatnya, panjang 11 ubin dan lebar 4 ubin. Super sempit. Di depan
leher angsa, ada satu ember dan gayung. Di ruangan mini inilah,
kesabaran kami untuk antri diuji.
Para Kokiers, tentu tahu bagaimana rasanya kebelet e-ek. Hendra,
seorang karib, pernah mengaku menggelepar kesakitan di lantai gara-gara
toilet di rumahnya sedang dipakai mandi saudaranya. Padahal, isi perut
sudah meronta-ronta dan mencapai titik kulminasi. “Rasanya, ingin
tumpah saja,” katanya. Lalu Handi mengakui kenapa ia ngebut dengan
sepeda motornya di jalan karena rasa ingin be-ol tak tertahankan.
Bahkan, ia sempat tersiksa, saat tekanan itu muncul, ia terjebak macet
dan tidak segera menemukan SPBU yang biasa dilengkapi dengan WC umum.
Arman malah lebih jujur dengan mengaku pernah be-ol di celana. “Habis,
ndak bisa nahan, sih,” katanya. Aku sendiri pernah tersiksa saat
berada di kereta kelas bisnis menuju Jogja. Saat itu, masa Lebaran.
Ular besi itu dijejali oleh orang-orang urban dan udik yang pulang
kampung. Lorong-lorong dan toilet kereta dipenuhi orang-orang itu.
Walhasil, aku menahan sakit perut berjam-jam di perut kereta.
Be-ol,
menurutku, adalah salah satu hak asasi manusia. Meski be-ol tidak
dimasukkan secara tersurat dalam Deklarasi Universal Hak Asasi Manusia
10 Desember 1948. Kegiatan ekskresi ini sudah ada sejak manusia
diciptakan di Taman Eden. Bayangkan sendiri jika kita berhari-hari
tidak bisa be-ol. Perut kita mual. Badan menciut bersama pucat. Layu.
Paras jadi pasi. Langkah kaki pun jadi limbung. Sampah metabolisme itu
kalau tidak dibuang justru akan menimbulkan penyakit. Kalau terlalu
lama ngendhon di usur besar, mengeluarkannya pun susah. Ekstra tenaga.
Bisa-bisa harus ‘cesar’ nih. Tentunya, aktivitas dan produktivitas kita
juga akan terganggu. Nah, demi penghormatan HAM, negara, perusahaan,
lembaga publik, sekolah, kantor, tempat ibadah, bandara, kereta api,
kantor polisi, penjara, dan sebagainya harus menyediakan toilet yang
layak pakai. Sok aktivis nih, ye!
Ruang Privat
Semua tentu setuju kalau toilet adalah ruang paling intim bagi kita.
Seumum-umumnya WC, kalau kita sudah masuk dan mengunci pintu kamar
kecil itu, kita masuk dalam kesendirian. Orang tidak mau diganggu saat
di toilet. Orang lain pun tidak mau penciumannya terganggu oleh bau
amoniak dari sampah biologis itu. Di sanalah, kita mendapatkan sensasi
ekskresi yang very-very personal. Menekuk wajah. Memejamkan mata
sejenak. Menyeringai. Lega. Puas. Mata berbinar. Karena itu, panggung
‘konser plung-plung’ ini biasanya dibuat sedemikian privat, rapat, dan
terkunci.
“Inilah saat-saat paling intim bagi saya. Kegiatan paling pribadi,”
kata Ayu di ruang chatting. Lain lagi dengan Natalia, ibu muda yang
sedang mengasuh bayi pertama usia empat bulan. Ia melihat toilet
sebagai tempat hang out paling nyaman di rumah. “Toilet adalah tempatku
istirahat dari menjaga anakku. Di sana, aku bisa senang hati
berlama-lama, tanpa merasa berdosa,” akunya. Maklum juga Natalia
melakukan itu. Tahu sendiri, orang yang mempunyai bayi di bawah lima
bulan. Tiap malam harus begadang. Bangun. Menyusui. Ganti popok. And so
forth.
Orang ingin senyaman mungkin saat beraktivitas di toilet. Di sana,
orang kontak dengan dirinya sendiri. Dirinya apa adanya. Dari sisi
paling baik yang sering ia tunjukkan pada orang lain sampai sisi paling
buruk, paling kotor, dan paling jelek yang ia sembunyikan. Toilet bisa
menjadi ruang kejujuran. Untuk mendukung kenyamanan, orang bisa berak
sambil membaca koran, novel, mendengarkan musik, nonton teve, mengetik
di laptop, dan sebagainya. Bahkan, orang bisa bertahan satu jam di
toilet untuk menegak kenyamanan.
Kini, toilet sudah multifungsi. Di sana, orang tidak hanya buang
ampas. Konon, katanya, toilet bisa jadi ruang favorit untuk mencari
inspirasi. Seorang kepala internal auditor di sebuah hotel di kawasan
Thamrin, Jakarta mengaku ide-ide investigasi briliannya bisa muncul
bak bintang jatuh bersamaan dengan jatuhnya ‘bom-bom’ amoniak ke lobang
kakus. Bahkan, ada seorang kolega yang berseloroh. Katanya patung The
Thinker (le Penseur) karya Auguste Rodin (1840-1917) yang berada di
Musee Rodin Paris sebetulnya adalah patung seorang filsuf yang sedang
merenung di atas kloset untuk menggelontorkan ide-ide filosofisnya.
Wih, ngawur!
Ada-ada saja tingkah orang di toilet. Salah satunya corat-coret.
Kreativitas dadakan ini sering kita temui jejaknya di toilet-toilet
umum, di terminal bus, stasiun kereta, pasar, pom bensin, dan
sebagainya. Dinding toilet penuh dengan grafiti. Lucu-lucu dan unik.
Ada yang menorehkan tanda tangan, lengkap dengan tempat, tanggal,
sekaligus nama terang. Mungkin ia terobsesi dengan penutup teks
proklamasi: Jakarta, 17 Agustus 1945, Soekarno Hatta. Mungkin pula ia
terobsesi jadi bupati yang doyan membubuhkan tanda tangan di batu
prasasti setiap usai meresmikan gedung pertemuan.
Ada lagi yang jatuh cintrong. Misalnya, “Seto-gambar hati-Mumun.”
Bisa jadi, ia seorang yang ingin jujur bahwa ia gandrung pada Mumun.
Tapi tidak punya nyali untuk mengungkapkannya empat mata. Ada lagi yang
melakukan demonstrasi diam-diam di dalam toilet dengan menulis “Fuck U
Soeharto!” Mungkin karena takut pantatnya kena peluru karet atau
kepalanya bocor oleh pentungan aparat, mendingan ia mengumpat dan
curhat di toilet. Apalagi, tidak ada gunanya lagi teriak-teriak di
jalanan nan panas dan berdebu karena tidak ada yang mendengarkan. Lebih
baik di toilet sambil ngadem. Ada lagi yang patah hati dengan menulis
“Jangan tinggalkan akang, neng!” Dan sebagainya. Dan sebagainya. Sayang
sekali, kreativitas ini malah bikin toilet kotor. Jorok. Kumuh. Tidak
nyaman.
Sejarah Toilet
Gemes soal toilet mendorongku mencari tahu sejarah toilet. Ya,
sambil menyelam minum airlah. Biar hati dongkol, pengetahuan tetap
harus bertambah. Kususuri lorong-lorong Google dan kutemukan beberapa
data benda ajaib ini. Konon, pada abad ke-25 SM, warga Harappa di
India punya toilet di setiap rumah. Masing-masing toilet dihubungkan
dengan saluran air dari batu bata. Toilet juga ditemukan pada peradaban
Mesir dan Tiongkok kuno. Di Romawi kuno, toilet biasanya menyatu dengan
tempat permandian umum. Saat itu, orang-orang tidak merasa malu
menggunakan toilet di ruang umum ini. Hmmm, bisa dibayangkan bila bisa
bertoilet bersama dengan putri Cleopatra. Baru sekitar tahun 200 SM,
warga Roma mulai menyadari pentingnya mempunyai toilet pribadi.
Cek,cek, cek, ternyata toilet sudah ada sejak zaman baheula!
Toilet
dengan gaya modern ditemukan oleh Sir John Harington tahun 1596. Toilet
ini dipopulerkan di Inggris pada zaman Victoria. Pada tahun 1738, JF
Brondel memperkenalkan toilet dengan katup pembilasan (flush).
Alexander Cummings memperkenalkan varian yang mampu menghalau bau busuk
toilet. Pada tahun 1777, Joseph Preiser membuat toilet lengkap dengan
katup dan engkol. Toilet pun terus berevolusi dari generasi ke generasi
seperti dalam bentuknya sekarang, dari yang berada di terminal bus
sampai di hotel bintang lima.
Reuters pernah memberitakan China dan Inggris bersitegang soal klaim
sejarah toilet paling tua. Para arkeolog China mengklaim bahwa toilet
temuan Inggris masih kalah tua dengan yang ada di Negeri Tirai Bambu
itu. Konon, toilet tertua ditemukan sejak zaman Dinasti Han. Tepatnya,
di makam seorang raja pada masa dinasti itu. Toilet ditemukan di
Shangqiu di provinsi Henan.
Bagiku sih, tidak penting siapa yang menciptakan toilet. Yang
penting ada servis toilet yang bersih dan layak bagi siapa saja.
Kisah ini aku tutup dengan ungkapan seorang teman atas tulisan ini.
“Kesejahteraan dan kemakmuran kadang tidak diukur dari seberapa
kinclong mobil, apartemen, atau gandengan seseorang. Tapi, cukup
sejengkal tanah berlobang untuk buang hajat,” katanya.
Maaf, saya mau ke toilet dulu! Hasta la vista!
Komentar gua :
Besok gua mau bikin toilet yang dikontrol pake CHIP MSP-430, diprogram pake JAVA, didesain pake ASIC, menggunakan teknologi 0.35 micron, bisa wireless ke internet, bisa disearch pake Google Earth, bisa di-invisible, ada lasernya, ada turbonya, bisa login ke MSN - YM - FS, dan bisa mengolah input yang diberikan menjadi sepiring nasi padang !!