Hari2 terakhir ini banyak sekali berita penghilangan sebuah nyawa, alias pembunuhan. Yang cukup sadis, pemenggalan kepala seorang yang diduga preman di Surabaya, yang diduga dilakukan oleh rekan komplotannya sendiri dengan motif pembagian hasil kejahatan yang kurang adil. Kemudian motif ini berkembang ke arah perselingkuhan. Diduga korban berselingkuh dengan istri atau kerabat pelaku.
Beberapa hari yang lalu, seorang bapak menghilangkan nyawa dengan sengaja alias membunuh anak dan istrinya, mertuanya, dan bapak ibunya. Seluruh anggota keluarganya dihabisi. Motifnya ? Karena tidak sanggup melihat anggota keluarganya malu karena dirinya bangkrut dalam berbisnis. Ketika ditanya, bapak itu mengaku bahwa dia sangat… sangat mencintai keluarganya. Dia melakukannya agar keluarganya tidak perlu menanggung malu karena kebangkrutannya. Dari yang semula hidup nyaman dan dihormati, berubah menjadi sasaran debt collector karena ditagih hutang2nya. Tragis….
Berita hari ini sungguh mengejutkan, seorang ibu membunuh anaknya perempuan yang baru berusia 3 tahun, karena tidak mempunyai uang untuk makan, sementara anaknya merengek-rengek terus meminta makan karena lapar. Si bapak tidak bekerja, si ibu juga tidak bekerja. Nyawa si anak harus melayang karena hal yang sangat manusiawi… minta makan karena lapar !!
Sebagai seorang ayah, dan seorang laki2, saya merasa sangat sedih membaca berita2 itu. Apalagi kekerasan terhadap anak2 yang dilakukan orang tuanya sendiri. Berkaca dari kehidupan saya pribadi, saya sangat mengasihi dan menyayangi anak2 saya. Bagi saya, mereka begitu berharga. Apapun akan saya korbankan untuk membuat mereka tersenyum. Sedikit saja mereka ketakutan, saya akan berusaha membuat mereka merasa aman dan nyaman. Berada jauh dari mereka selama 2 tahun sangat menyiksa hati saya. Saya tidak bisa full konsentrasi ke studi, karena memikirkan mereka setiap hari.
Ya, apapun sudah dan akan terus saya lakukan untuk menunjukkan pada anak2 saya, bahwa hidup mereka sangat berarti bagi saya, senyum mereka adalah prioritas hidup saya. Saya jauh dari keluarga. Sebagai seorang laki2 normal, tentu saja saya memiliki kebutuhan seksual, kebutuhan menyayangi dan disayangi. Ada banyak wanita cantik di sekeliling saya yang bisa membuat saya terjatuh. Segala cara saya usahakan, agar tidak melakukan kesalahan fatal yang bisa merusak hidup keluarga dan jiwa anak2 yang sangat saya kasihi. Bahkan ketika saya terjatuh dan nyaris melakukan kesalahan yang sangat fatal, sekalipun sangat berat dan harus menanggung malu, menekan harga diri, menyalibkan proud saya, itupun saya tempuh, untuk kembali ke jalur yang seharusnya, semata-mata karena saya sangat menyayangi keluarga dan anak2 saya.
Dalam berbisnis, mencari nafkah, membelanjakan uang, saya sangat extra hati2. Sekalipun saya sering terlihat jor2an kalau membelikan oleh2 buat keluarga, tapi saya sangat membatasi pengeluaran untuk diri saya sendiri. Orang lain saya belikan yang bagus2, keluarga saya belikan yang bagus2, saya sendiri jarang membeli untuk diri saya sendiri barang2 yang mewah. Sepatu termahal yang pernah saya beli untuk saya sendiri cuma seharga 150 ribu rupiah. Siapa bilang saya tidak ingin sepatu Reebok yang berharga 600 ribu ? HP termahal yang pernah kami (saya dan keluarga) beli adalah seharga 525 ribu.
Secara keuangan, lembaga keuangan dan bank menganggap kami sekeluarga sangat layak untuk mendapatkan kredit. Kartu kredit kami sangat lancar, pembayaran ini dan itu dari perusahaan leasing sangat lancar, dan sudah lunas semua. Puji Tuhan, banyak sekali sales2 dari bank maupun perusahaan kredit dsb yang setiap hari menawarkan pinjaman maupun barang2 kepada kami sekeluarga. Di mata mereka, kami termasuk konsumen yang memiliki kredibilitas yang memadai. Pekerjaan yang dinilai cukup stabil di organisasi2 terpandang di Semarang dan Salatiga. Namun demikian, saya sangat ketat dengan tawaran2 itu. Saya menjaga agar langkah keluarga kami tidak tersandung dan terjatuh karena masalah keuangan.
Mendengar teman ambil kredit mobil terbaru, dengan cicilan bulanan yang sampai 3 jutaan, benar2 membuat saya terbelalak. Benar2 ga habis pikir, bagaimana mereka mengatur keuangan per bulannya ? Bagaimana dengan kebutuhan anak2nya ? Biaya pendidikannya ? Belum kalau ada yang sakit ? Siapa bilang saya tidak pengen Avanza ? Siapa bilang saya tidak pengen naik Panther ? Come on, saya naik motor Semarang-Salatiga untuk bekerja. Kalau panas kepanasan, kalau hujan kehujanan. Naik mobil adalah impian dan kalau boleh dibilang, kebutuhan saya.
Well, balik lagi ke masalah di atas, semakin hari hidup ini semakin susah. Sebagai kepala keluarga, kita harus sebisa mungkin membebaskan pikiran kita dari hal2 yang bisa membuat kita tidak bisa berpikir jernih, sehingga nasib istri dan anak2 kita dapat senantiasa terjaga. Menjadi kepala keluarga sangat sangat engga gampang. Musti bisa atur keuangan, musti bisa atur emosi, musti ngerti psikologi, musti bisa memberikan rasa nyaman ke orang2 di sekeliling (walaupun lagi pusing karena masalah kerjaan), musti bisa ngalahin ego dan gengsi (kalau pas dirayu2 sales cewek yg sexy plus mengundang, hanya untuk beli barang2 yang engga terlalu dibutuhkan), musti rela dibilang kuno, engga punya duit, kurang elit, dsb.
Sebagai seorang bapak, dan seorang laki2, saya menyerukan kepada semua laki2 dan bapak2 : senyum anak2 kita harus kita usahakan ! Keceriaan mereka harus kita perjuangkan !