Perpuluhan : moment yang menyayat hati…
Sewaktu pulang Indo, aku mengalami suatu kejadian yang sangat mengiris hatiku, yaitu saat memberi perpuluhan. Well, memberi perpuluhan bagi sebagian orang adalah hal yang biasa, mudah dilakukan, bahkan saking terbiasanya, jadi ga ada artinya lagi. Tapi kejadian kali ini benar2 membuat aku tidak pernah bisa lupa akan kejadian memberi perpuluhan kali ini.
Tanggal 15, istriku rutin menerima gajinya. Sedangkan aku tanggal 1. Tanggal 1 Feb 08, aku pas pulang Indo. Aku belajar cara mengelola gaji dari mamanya Petry. Langkah pertama setelah menerima gaji adalah : berdoa, mengucap syukur dan berkat atas gaji yang sudah diterima. Langkah kedua, ambil 10% yang menjadi milik Tuhan, dan berikan untuk perpuluhan. Langkah selanjutnya, baru kita alokasikan sisanya yang 90% untuk bayar ini dan itu.
Tanggal 1 Feb 08, aku mulai mempraktekkan cara itu. Aku berdoa, mengucap syukur dan memohon berkat Tuhan atas gaji yang telah aku terima. Kemudian, kuambil 10% nya untuk perpuluhan. Eee… belum sempat ngambil sisanya yang 90%, sudah ada tagihan asuransi yang jumlahnya menghabiskan hampir semua sisa gajiku. Gini2 aku mengasuransikan diriku loh. Hehehe… pikirku simple aja, biar kalau aku suatu saat dipanggil Tuhan, istri dan anak2 ada tunjangan buat hidup mereka. Yah… akhirnya aku harus merelakan sisa gajiku untuk membayar tagihan asuransi tersebut.
Masalah mulai datang. Sejatinya, sisa gajiku itu akan dipakai untuk membeli tiket pulang ke taiwan, dan membeli susu serta pampers, dan tetek bengek lainnya. Buat kebutuhan hidup lah. Tapi terpaksa dibeli sebagian kecil saja. Saat tanggal 13 tiba. Dua hari lagi istriku gajian. Aku berdoa puasa loh, supaya aku bisa ngomong dengan baik, bahwa aku akan menerapkan cara yang baru untuk mengelola gaji, yaitu mendahulukan Tuhan. Padahal secara hitung2an matematika, kebutuhan bulan itu pasti kurang, karena harus dipotong untuk bayar asuransi, dan sekarang ditambah bayar perpuluhan. Aku berdoa dan berpuasa, supaya istriku bisa mengerti, bahwa aku sebagai kepala keluarga ingin menerapkan atau mengenalkan hukum Tuhan dalam keluarga kami, yaitu bahwa kami harus memberi perpuluhan. Padahal secara faktanya, tidak memberi perpuluhanpun, gaji itu belum cukup untuk mengcover kebutuhan keluarga yang semakin menggila.
Tanggal 14, aku kembali berdoa, minta Tuhan bantu aku bagaimana ngomong tentang hal ini. Akhirnya tanggal 15, aku bilang, sebelum gajinya dipakai, kita harus berdoa dulu, mengucap syukur dan memohon berkat pada Tuhan. Kemudian kita ambil 10% untuk perpuluhan. Baru sisanya kita atur untuk bayar ini dan itu. Hal ini aku sampaikan saat kami (aku, istri, dan anak2) berdoa malam hari sebelum tidur. Reaksi istriku sudah bisa kumengerti, bahwa dia sebenarnya keberatan. Akupun menghormatinya, karena itu adalah gajinya, hasil dia memeras keringat dari pagi sampai petang. Aku harus menghormatinya. Namun demikian, aku bergumul. Aku sebagai kepala keluarga, sebagai imam, aku harus membawa keluargaku untuk taat pada hukum Tuhan. Ga bohong, aku juga ngerti kalau jumlahnya kurang. Lebih2 kalau dipotong untuk perpuluhan. Kurangnya banyak.
Tanggal 16, istriku setuju untuk memberikan perpuluhan. Puji Tuhan. Setelah atur semuanya, sisa gaji yang ada sangatlah minim. Dan kejadian selanjutnya membuat imanku diuji habis2an. Tagihan ini dan itu tidak bisa dicover. Istriku menangis di depanku dan anakku Amanda. Tangisnya juga ditahan2, karena kami tidak ingin mama tahu kalau kami sedang bergumul tentang uang. Apa kata mama, kalau masalahnya karena kami beri perpuluhan. Itu akan jadi kesaksian yang buruk bagi mama dan adik iparku, yang memang ikut kami dan kami tanggung hidupnya.
Perbincangan di tengah tangis malam itu tidak bisa kulupakan. Istriku berkata sambil menangis : tidak pernah terjadi, kalau aku memberi perpuluhan, akhir bulan akan tercover semua kebutuhan kita, tidak pernah aku alami. Aku hanya bilang, nanti Tuhan yang cukupkan semua. Kita lakukan bagian kita, Tuhan akan bereskan sisanya. Aku ngomong gitu, sambil berdoa, Tuhan, tolong buktikan apa yang aku omongin ini. Amanda juga menangis, dan dia berkata : papa pulang ke rumah, malah membuat mama menangis. Papa sudah mengambil uangnya mama ! Papa mana yang hatinya engga hancur dengan kejadian seperti itu ?
Aku hanya bisa berguman : nanti Tuhan yang cukupkan. Tak terasa, akupun menangis. Aku nangis, karena aku sangat terpojok. Di satu sisi, aku ingin bawa keluargaku nurut sama Tuhan. Di sisi lain, memang kenyataannya duitnya kurang dan ga cukup. Aku harus apa coba ? Aku cuma berdoa dalam hati, Tuhan, teguhkan dan support apa yang aku katakan pada istri dan anakku, bahwa Engkau yang akan cukupkan semua kebutuhan kami bulan ini. Aku ga mau tahu. Aku sudah ajak keluargaku melakukan apa yang Kau mau. Sekarang, situasi yang berantakan ini bagianMu. Alhasil, malam itu aku dicuekin ama istri dan anakku. Betapa sedih dan hancur hatiku.
Tapi ternyata Tuhan ga pernah kecewakan aku. Beberapa hari kemudian, ada sebuah sms masuk ke HPku. Isinya : Pak, saya sudah transfer sekian rupiah ke rekening bapak. Semoga itu berguna buat bapak dan keluarga bapak. Ga tahu dari siapa. Dan mau tahu jumlahnya ? Cukup untuk mengcover semua kebutuhan keluargaku dan tagihan2 yang ada sampai akhir bulan ! Bahkan ada sisa !
Sebagai seorang kepala keluarga, aku bersyukur, Tuhan mengcover aku. Dan sekarang istri dan anakku tahu, bahwa apa yang aku ajarkan kepada mereka, itu dilihat Tuhan. Dan Tuhan menyatakan diriNya kepada keluargaku. Dia telah meneguhkan apa yang aku katakan. Semoga kisah ini menjadi berkat Anda yang membacanya. Tuhan memberkati.