Hari ini sang khe (kuliah) nya bagus banget. Aku suka dgn profesor satu ini… masih muda… santai… cool… tp wawasannya luas (kayak gw… uhuk… uhuk… tiba2 batuk… hehehe). Tadi beliau bercerita ttg : mengapa kok memory dibuat semurah mungkin, dan cpu dibuat lebih mahal. Dia contohkan perusahaan2 besar dunia, pembuat cpu, ternyata mereka juga pny saham di perush2 pembuat RAM dan Flash memory. Mereka spend banyak uang untuk perush2 tsb. Mengapa ? Krn mereka "subsidi" harga memory supaya orang aware dgn CPU mereka. Org akan berpikir terus ttg CPU yg cepat, canggih, powerfull, dsb…
Aku sangat setuju dgn pemikiran beliau, saat dia berkata : demikian juga di kelas ini, selalu ada murid2 yg "agak kurang pinter" ada juga murid2 yg pinter luar biasa. Itu hal yg normal. Kalau semua pinter, bagaimana penilaiannya ? Kalau semua di bawah rata2, bagaimana nasib kelasnya ? Semua harus seimbang, ada yg kurang, ada yg lebih. Itu baru normal. Yg paling penting adalah : YANG SMART JANGAN SAMPAI MERASA BAHWA DIA SMART, YANG KURANG PINTAR JANGAN SAMPAI MERASA DIA ITU BODOH. It’s not technology matters… it’s about psychology….
Well… Aku sendiri sudah lama menerapkan prinsip keseimbangan itu dalam hidupku. Baik itu di kampus sebagai dosen, di keluarga, maupun di gereja. Jangan heran kalau suatu saat km liat ada org yg ngerendahin aku, ngeremehin aku, tp aku cuma senyum aja. hehehe… Kadang ada teman yg bertanya kepadaku, knp km kok mau2nya angkat2 barang, jadi "kacung" di gereja, padahal km sudah senior… mestinya km yg jadi leader dan yg junior2 itu yg kerja. Biar mereka dpt pengalaman. Hmm… aku tidak menyanggah itu, tp aku pny jalan sendiri. Dgn "merendahkan" diri seperti jadi "kacung" itulah, sebuah tujuan dpt tercapai. Kalau semua mau jadi leader, siapa yg dipimpin ? Kalau semua mau jd "kacung", siapa yg mimpin ? Bagiku, kalau ada yg lebih muda sedang memimpin, sebaiknya aku memposisikan diriku sebagai "kacung". Karena dengan begitu, tujuan bersama dpt tercapai. Kadang mereka pun (yg junior2) bisa belajar dr kita2 yg sedang jd "kacung" kok. Umur dan pengalaman kan gak bisa ditipu. hehehe… Begitu pula kita, saat jadi "kacung", kita bisa belajar dr yg muda2 yg sedang memimpin.
Hanya pada saat2 emergency sajalah, insting "senioritas" ku muncul, dan "take over" kendali. hehehe…. Karena saat2 kritis itulah, dibutuhkan leadership dr orang yg lebih matang dan pengalaman. Itupun hanya untuk menjaga agar semua progress tetap pada jalurnya. Semata-mata hanya supaya tujuan tetap tercapai.
Pernah, ada teman omong ama aku… Bud, km ini kalau ada orang (baik yg lebih muda or yg lebih tua) bicara tinggi (sombong) gitu, knp km angguk2 aja ? Ntar org kira km bego tau. Kita harus tunjukin kalau kita itu lebih ngerti dr mereka. Well…. kalau gw pikir2 lagi, kalau orang bicara sombong ttg suatu hal, trus aku timpali dgn hal2 yg lebih tinggi lagi dr yg dia tahu, apa untungnya ? Biar aja dia merasa bahwa dia bisa… biar dia jd PD… hehehe… gw dianggap tidak bisa, itu tidak mengubah kenyataan kalau sebenernya gw bisa dan tahu lebih banyak dr dia kok. hehehe…. But, thank you for your advise my friend… hehehe….
Di keluarga juga demikian. Meskipun kendali utama ada di tanganku sebagai kepala keluarga, tapi anggota keluargaku punya kebebasan untuk berekspresi sesuai pribadi masing2. Kayaknya, orang2 yg tinggal di rumahku adalah orang2 yg paling berbahagia di dunia deh. Hahaha… sombong ni yeeee….. Gak lah… hehehe… Kadang aku jadi "kacung" juga di keluargaku. Jadi tumbal juga sering… semua semata-mata supaya anggota keluargaku bisa bertumbuh, dewasa, merasa at home, merasa diterima apa adanya, bisa handle masalah, bisa belajar banyak ttg hidup. Bahkan anak2ku yg masih muda sekalipun, juga mendapat treatment yg sama. Coba pikir, kalau mereka tidak bisa survive, tdk bs handle masalah, bukankah bebanku akan sangat besar ? Kan balik2 nya juga ke aku buat beresin masalah mereka kan ? hehehe….
Aku inget salah satu DD poki berkata : Ko, km ini bener2 papa sejati… semuanya diselipin "didikan". hahaha…. mungkin itu krn habit and insting aja D….
Ada hal lain yg menarik perhatianku. Aku bisa mengerti, mengapa perusahaan software terkemuka di dunia
setiap kali mengeluarkan produk terbaru, selalu membutuhkan RAM lebih
besar, prosesor lebih cepat, graphics card lebih powerfull. Semua itu
efek berantai. Sebenarnya dia bisa saja membuat sistem operasi yg
murah, cepat, stabil, dan simple. Tapi itu "tidak" mereka lakukan. Coba
pikir, berapa banyak org yg bisa makan dr taktik mereka ini ? Ribuan
org dpt pekerjaan dr industri RAM, ribuan lg dr pabrik CPU, jutaan
programmer dpt uang dr tambal-menambal "kekurangan" sistem operasi
mereka, bahkan puluhan ribu lagi dpt menghidupi keluarga mereka dr
virus dan anti virus.
Aku teringat sebuah film yg dibintangi oleh Keanu Reaves, judulnya "Chain Reaction". Film ini berkisah ttg penelitian doktor2 muda di bidang fisika dan nuklir untuk menciptakan energi yg murah, bersih, ramah lingkungan, dan GRATIS. Tapi partner mereka dibunuh dan mereka sendiri dikejar2 untuk menyerahkan hasil penelitian mereka, untuk dikomersialkan.
Ada satu adegan yg aku ingat betul, saat di mana si musuh berkata : si A (prof yg sdh dibunuh) itu terlalu idealis. Dia ingin membuat energi yg bersih dan gratis. Dunia kita adalah dunia yang haus dengan minyak. Semua pakai uang. Coba bayangkan kalau energi ini gratis… industri akan berhenti.. ekonomi dunia akan collaps… perdagangan akan berhenti…profesi2 tertentu akan mati… dsb…
Well… masuk akal juga sih. Tapi aku pribadi lebih condong ke doktor2 muda itu. Kalau aku punya kemampuan (ilmu misalnya), aku lebih suka bagikan secara cuma2. Emang sih, aku butuh uang buat hidup. Keluargaku butuh baju… butuh makan… bahkan butuh jalan2 juga. Tapi aku selalu mencukupkan diriku dgn apa yg Tuhan beri. Seperti di alkitab berkata : sebagaimana aku keluar dr kandungan mamiku, demikian juga aku akan pergi. tidak ada satupun yg bisa kubawa. Apa gunanya pemakaman yang megah, kuburan seharga miliaran rupiah ?
Apa yg Tuhan berikan kepadaku, bukankah untuk dilipatgandakan bagi kepentingan orang lain juga ? Bukankah hidupku untuk mewarnai hidup mereka ? Kalaupun orang lain yg dapat pujian.. orang lain yg dapat penghargaan… knp aku musti susah ? Kayaknya terlalu muna gitu, aku punya pemikiran spt itu. Tp bukankah itu yg terjadi. Paulus berkata : Aku yg menabur (dgn susah payah)… Apolos yg menuai (yg dpt nama)… tapi Allah yg memberi pertumbuhan. So, semuanya kembali ke Tuhan kok.
Hmm… sebagaimana dia keluar dr kandungan ibunya, demikianlah dia akan pergi… telanjang seperti ketika dia datang…. keep in mind….
Ini ada ayat yg aku paling suka :
Dua hal aku mohon kepada-Mu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni: Jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan
kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan
yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkal-Mu dan berkata: Siapa
TUHAN itu? Atau, kalau aku miskin, aku mencuri, dan mencemarkan nama
Allahku. (Amsal 30 : 7 - 9)
Kayaknya judul dr prof di atas kudu sedikit dimodifikasi deh… hehehe… It’s not technology matters… it’s also not psychology matters… it’s all about God heart and what’s He want…
Footnote :
Thinking out of the box, consider all issues, that’s the scientist way…
Thinking out of the box, consider all issues, and pray for God bless, that’s the BK way… (Taiwan June 2007)