Archive for November, 2005

Tidak punya uang, tetangga jadi gila

Aku punya tetangga, umurnya sepadan denganku. Dia teman mainku waktu kecil, sebut saja namanya Bunga. Dia sudah menikah dan punya 2 anak laki-laki, sekitar 3 tahun dan 6 tahun usianya.

Masa kecil Bunga kurang beruntung. Ibunya cerai dengan ayahnya. Bunga kecil hendak dibuang oleh Ibunya. Beruntung, ada seorang haji yang mau memelihara Bunga sebagai anaknya sendiri. Ibunya menikah lagi, dan memiliki 3 anak. Di keluarga yang memeliharanya, Bunga menjadi anak bungsu. Maklum, haji tersebut sudah punya 3 anak. Yang tertua menjadi tentara, yang kedua ibu rumah tangga biasa, dan yang terakhir bekerja di perusahaan swasta.

Bunga tidak melanjutkan sekolah. Dia hanya mengenyam pendidikan SD saja. Entah bagaimana kehidupan sehari-harinya, aku kurang mengerti. Maklum, sejak menikah, Bunga ikut dengan suaminya tinggal di luar kota. Sang suami juga bukan orang yang memiliki penghasilan yang bagus. Namun orang tuanya bisa menyekolahkan anak Bunga yang paling besar.

Beberapa bulan yang lalu, Bunga kembali ke kampungku. Dia tidak mau kembali ke rumah suaminya di luar kota. Alasannya cukup aneh : dia ingin rumah suaminya lantainya (tanah) dipasangi keramik dahulu. Ternyata itu awal tragedi kemanusiaan yang terjadi di depan mataku.

Hari demi hari berlalu, tiba saatnya hari lebaran tiba. Sanak saudara Bunga datang silih berganti, dengan memamerkan hasil kerja mereka. Rupanya hal itu menyakitkan perasaan Bunga. Dia tidak bekerja, tidak punya penghasilan, ingin memiliki barang-barang seperti yang dia lihat dari sanak saudaranya.

Salah satu kejadian yang memukul jiwanya adalah saat "kakak" perempuannya yang bekerja di Korea pulang ke rumah keluarganya untuk "memamerkan" perhiasan emas di tangan dan lehernya. Selain memamerkan perhiasan yang jumlahnya cukup banyak, kakak Bunga ini juga membagi-bagikan uang hingga jutaan rupiah kepada sanak keluarganya. Biasa, ingin menunjukkan keberhasilannya merantau di Korea. Namun sayang sekali, Bunga tidak mendapat bagian sedikitpun. Akibatnya sungguh di luar dugaan, Bunga menangis sejadi-jadinya. Hatinya sangat perih. Dan dia jadi gila saat itu juga.

Bunga menjadi pemarah, dan memasang batu-batu besar di jalan kampung. Akibatnya orang-orang kampung menjadi ketakutan. Sementara itu sanak-saudara yang pamer sudah pulang ke daerah masing-masing. Pak RT berinisiatif mengumpulkan warga, termasuk aku, untuk mengikat Bunga dan mengirimnya ke rumah sakit jiwa.

Saat hendak menangkap bunga, aku melihat matanya. Muncul rasa tidak tega, apalagi dia teman bermainku waktu kecil. Akhirnya aku tidak jadi ikut menangkapnya dan memilih masuk ke rumah. Proses penangkapan dan pengiriman Bunga ke rumah sakit jiwa sungguh memilukan hati. Dia hanya menangis saja dalam keadaan terikat, sementara anaknya yang masih kecil ikut mengantar ibunya "digiring" ke rumah sakit jiwa. Apa yang ada di pikiran anak itu, saat melihat ibu kandungnya diperlakukan seperti itu, aku tidak tahu. Aku hanya minta Tuhan memberikan kekuatan kepada keluarga mereka.

Hari demi hari berlalu, bulan demi bulan berlalu. Kemarin istriku melihat Bunga sudah kembali ke rumahnya. Namun keesokan harinya, aku tidak bisa menemukan Bunga sampai hari ini. Apakah dia dikirim ke rumah sakit jiwa lagi, atau diikat di dalam rumah, aku tidak tahu. Dan masyarakat juga seakan tidak mau tahu, apakah Bunga masih hidup atau sudah tiada. Semua sibuk memikirkan dirinya sendiri dan keluarganya. Semua sibuk berkerja, mencari sesuap nasi, dan memuaskan perutnya sendiri.

Jika kita adalah orang yang diberi anugerah oleh Tuhan, tidak mengalami masalah ekonomi, kendalikanlah perilaku kita. Ada banyak orang lain di sekitar kita yang demi uang seribu rupiah rela bunuh-bunuhan, rela pukul-pukulan. Demi sepuluh ribu rupiah, mereka rela mencelakai orang lain.

Istriku beberapa kali dicopet orang di angkutan umum, mulai dari kehilangan 12 ribu rupiah sampai 750 ribu rupiah uang untuk kontrak rumah juga pernah. Saat istriku menangis, aku selalu berkata padanya : lain kali leih berhati-hatilah. Tapi kalau tetap terjadi juga, berdoalah, agar uangmu yang diambil itu menjadi berkat bagi pencopet dan keluarganya. Siapa tahu uangmu itu digunakan untuk memelihara hidup beberapa jiwa pada hari itu.

Sok rohani ? Mungkin juga. Tapi ingat Firman Tuhan dalam kitab Amsal (ayatnya lupa) : Jika ada saudaramu datang kepadamu, dan meminta sesuatu dari padamu, jangan berkata kepadanya "pergi, kembalilah besok". Sedangkan yang dimintanya ada padamu. Ayat lain lagi berkata : barangsiapa berperkara dengan orang lemah yang tidak memiliki Pembela, AKUlah yang akan menjadi Pembelanya. Orang yang berperkara dengan orang lemah itu menempatkan dirinya untuk berperkara dengan AKU, dan AKU akan menuntut perkara si lemah dari orang tersebut.

No comment »