Hidup tambah susah, pengharapan hilang
Perubahan harga BBM (premium) dari 2400 an menjadi 4500 per liter, dan minyak tanah dari 900 menjadi 2000 rupiah per liter memberikan pemandangan sehari-hari yang belum pernah kulihat sebelumnya.
Kalau dulu, dengan duit 5000 bensin motorku selalu penuh, dan bisa membawaku pulang pergi mengajar di Salatiga, sekarang harus bayar 15 ribu untuk bensin, plus 10 ribu lagi untuk makan dan jaga-jaga kalau ban bocor. Maklum, tambah angin jadi 500 - 1000 sekali tambah, belum lagi tambal ban, jadi 3500 - 5000 kalau pas sial kena ban bocor.
Untuk operasional istri dan anak ke sekolah, kalau dulu angkot 1000 sekali jalan, sekarang 2000 sekali jalan per orang. Lha kalau harus oper jalur 3 kali ? Pulang pergi bisa 12 ribu per orang per hari. Pusiiing…..
Beberapa kejadian menarik pernah aku temui. Beberapa teman yang dulu ke mana-mana naik mobil, sekarang bergoncengan naik motor ama istri + anaknya. Ke mana mobilnya ? Ndak tahulah… mungkin dijual, diganti motor.
Pohon-pohon di belakang rumahku sekarang pada gundul. Habis ditebang sampai ke akarnya. Ternyata tetangga-tetangga memasaknya sekarang memakai kayu bakar. Maklum, minyak tanah mahal… mana antre lagi. Antre 3 jam hanya untuk mendapat minyak 3 liter. Aku yang memakai gas, tidak lebih enak. Lha gimana, gas yang dulunya 55 ribu, denger-denger sekarang jadi 75 ribu setabung. Oh My God !
Anak tetangga kemarin kena DB, masuk rumah sakit. 4 hari di RS, habis 2,6 juta. Susahnya, tetangga ini termasuk orang tidak mampu. Anaknya 3, suaminya jadi tukang parkir liar, istrinya bantu-bantu nyuci pakaian tetangga. Saking ndak mampunya buat bayar uang RS, dia dan anaknya yang sakit nunggu di luar kamar, hanya biar ndak kena biaya lagi. Suami istri ini datang ke hampir semua tetangga untuk cari pinjaman, tapi hasilnya tidak begitu bagus. Sempat juga mereka dapat makian, karena dianggap mengganggu tetangga yang lain. Aku dan istriku ingin membantu, karena ibu dari anak itu sering membantu mencuci pakaian kami. Tapi karena kami juga ndak punya uang, kami berdiskusi. Uang kami tidak punya. Tapi kami ingin membantu. Sampai akhirnya kami berdoa : Tuhan, kami yang Kau beri hati untuk tergerak menolong, tidak Kau perlengkapi dengan sesuatu (uang) yang bisa diberikan. Tapi tetangga yang punya uang, tidak diberi hati yang tergerak untuk menolong.
Akhirnya kami menemukan jawaban dari pergumulan kami itu. Saat orang lumpuh minta sedekah dari Petrus, Petrus berkata : emas dan perak aku tak punya. Tapi apa yang ada padaku akan kuberikan. Dalam nama Yesus Kristus, berjalanlah. Dan mujizatpun terjadi. Kamipun melakukan hal yang sama. Uang kami tidak punya, namun kami punya Tuhan (sekampung, cuma keluarga kami yang Kristen) yang kuat. Apa yang kami lakukan ? Kami bersatu dalam doa untuk keluarga ini. Tak lupa kami relakan sebuah kalung + leontin milik istriku untuk digadaikan oleh mereka. Hasil gadaian tidak seberapa, namun itu sangat berarti bagi mereka. Dan ajaib, Tuhan membantu mereka untuk menutup uang RS yang 2,6 juta itu. Puji Tuhan.
Pernah suatu saat, jam 3 siang, aku mulai masuk kelas untuk mengajar. Hari itu adalah hari untuk mengumpulkan paper, tugas yang kuberikan kepada mahasiswaku 2 minggu yang lalu. Satu per satu, mahasiswaku menyusul paper yang dijilid. Sampai suatu saat ada seorang mahasiswi menyusun paper tanpa dijilid. Hanya distaples doang. Aku panggil dia, dan aku kembalikan papernya sambil berkata : papernya harus dijilid. Kemudian siswiku ini berkata : saya susun nanti sore ya pak. Kenapa kok belum dijilid ? tanyaku. Ndak punya uang pak, belum dapat kiriman. Aku tersentak. Aku ambil kembali papernya, sambil berkata : OK, papernya saya terima. Kamu tidak perlu menjilidnya. Aku melirik jam, sekarang sudah pertengahan bulan. Siswiku ini belum juga dapat kiriman ? (aku ngerti betul rasanya. Karena seperti yang beberapa rekan ketahui, aku kuliah dengan biaya sendiri).
Aku melirik jam lagi, sudah hampir setengah empat sore. Aku bertanya kepada siswiku tadi : kamu sudah makan siang ? Belum pak… ndak punya uang… jawabnya lirih. Meskipun siswiku itu menjawab dengan sangat pelan (malu dengan temannya yang lain), tapi bagai petir di siang bolong di telingaku. Aku segera keluar kelas, dia aku suruh keluar juga. Aku lihat isi dompetku, hanya selembar 50 ribuan yang terselip di dompet. Nih, kamu makan dulu. Nanti kamu sakit, begitu kataku. Semula, siswiku menolak menerimanya sambil matanya berkaca-kaca. Aku terus mendesaknya, sampai dia menerimanya dan meninggalkan kelas untuk makan. Aku melanjutkan mengajar mahasiswaku yang lain.
Kira-kira seperempat jam kemudian, siswiku ini datang. Aku mengajaknya keluar kelas, dan dia memberikan uang kembalian kepadaku. Jumlahnya 47 ribu. Berarti dia cuma makan habis 3 ribu, pikirku. Segera otakku berputar, nanti malam dia makan apa ? Besok dia makan apa ? Besok siangnya ? Dst… Segera aku berikan 27 ribu ke tangannya. 20 ribu lagi aku simpan untuk beli bensin untuk balik ke Semarang. Dia berkeras menolak pemberianku. Sampai akhirnya dia menerimanya sambil berkaca-kaca matanya. Dia berniat mengembalikannya beberapa hari lagi. Tapi aku berkata : melihat kamu bisa kuliah dengan baik, bisa lulus kuliah, dapat kerja yang baik, dan melihat kamu akhirnya bisa survive dalam hidup, itu jauh lebih berarti bagi saya. God bless you (siswiku ini belum kenal Tuhan).
Ah… kalau aku pikir-pikir lagi, betapa susahnya hidup ini. Hari demi hari bertambah susah. Banyak orang kehilangan pegangan hidup. Banyak orang membutuhkan pengharapan. Tapi sedikit yang mengalami secara pribadi, bahwa ada pribadi yang kuat, yang sanggup dijadikan tempat berlindung dalam segala keadaan, termasuk keadaan di mana tidak ada harapan. Dia itu Yesus, Tuhan keluarga kami.
Aku sangat bersyukur, aku dididik oleh Tuhan sejak kecil. Aku tidak pernah mendapatkan apa yang aku inginkan dengan mudah. Mulai dari mainan, biaya untuk sekolah, biaya untuk kuliah, biaya married, biaya bangun rumah, biaya menghidupi istri + anak, biaya untuk bantu-bantu ortu, biaya untuk nyekolahin adik iparku, semua itu aku peroleh dengan penantian yang sabar (tidak saat itu juga tersedia), penuh doa, dan kadang harus keluar air mata + luka hati. Namun di situlah letak kasih Tuhanku. Dia tidak pernah terlambat menyediakannya buat aku dan keluargaku. Itu menjadi habit bagiku. Aku terbiasa mengandalkan Tuhan dalam segala hal. Dan aku terbiasa dengan cara kerjaNya, yang tidak perlu diragukan lagi. Aku selalu merasa cukup dengan kondisiku, apapun itu.
Seperti ayat yang sangat kusukai dari Amsal 30 : 7 - 9 : "Dua hal aku mohon kepadaMu, jangan itu Kautolak sebelum aku mati, yakni jauhkanlah dari padaku kecurangan dan kebohongan. Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan. Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku. Supaya, kalau aku kenyang, aku tidak menyangkalMu dan berkata : Siapa Tuhan itu ? Atau kalau aku miskin, aku mencuri dan mencemarkan nama Allahku".
Kalau ada rekan-rekan yang berada dalam kesulitan… bahkan berada dalam kondisi yang tidak ada harapan… dengarlah kata-kataku ini : Datang pada Yesus. Dia akan membuat hari-harimu menjadi indah, dan hatimu kembali bersuka cita. Aku sudah membuktikannya sendiri sepanjang hidupku !