Archive for July, 2005

Merapi… oh… Merapi…

Cukup lama saya mendengar kata "Ketep Pass", baik dari cerita mahasiswa saya yang rame-rame ke sana, maupun baca-baca blog punya si Adriel dan David, lama-lama kok ngiler juga. Apalagi pada dasarnya saya orang yang suka keluyuran naik motor.

Dulu waktu masih pacaran, saya sering ajak istri saya jalan-jalan keluar masuk desa, naik gunung, atau ke daerah-daerah yang "terasing" naik motor. Asyik lho, selain udaranya sueger… penduduknya masih ramah-ramah. Mungkin banyak yang sudah kenal Pemancingan Suharno di Bandungan. Tapi dulu waktu daerah itu belum terkenal, kami (saya, istri, Wiwie, Ming Kui, Milka, Meike, Andreas, dan Maudy) sudah sering ke sana untuk mancing. Waktu itu rumah pak Harno masih berdinding anyaman bambu (gedhek), dan tempat mancingnya masih berupa kolam tanah. Kami mancingnya di bawah pohon bambu (pring). Jalan ke rumahnya pun masih berupa jalan tanah. Kalau habis mancing, biasanya bu Harno (yang sekarang agak centhil karena kebanyakan duit itu) selalu ngasih kami buah tangan berupa jenang buatannya sendiri… GRATIS…

Well… balik ke masalah ketep… Hari kamis, saya nggak ada kelas. Bingung nggak ada kerjaan, kok tiba-tiba blog si David melintas… ketep… ketep… Langsung aja saya tanya-tanya dosen yang asli Salatiga, jalan ke arah ketep. Saat itu jam 13.00. Mereka bilang, sebaiknya ke ketep pagi aja, saat kabut belum turun. Kalau jam satu siang, sampai di atas kabut sudah turun, nggak bisa lihat apa-apa. Tapi dasar saya orangnya nekat (cenderung ngawur sih… hihihi), tetep aja saya berangkat. Soalnya saya menikmati perjalanannya… kena anginnya… suara mesin motornya…

Matahari lagi baik ama saya, karena saya dihantar dengan sinarnya yang cukup bikin badan agak hangat (saya lupa pakai kaos kaki, jadi kaki saya bergetar terus karena kedinginan). Jalan menanjak ke arah Kopeng sangat mengasyikkan. Berkelok-kelok dengan pemandangan pegunungan yang hijau… petani yang lagi manen jagung… dan mobil-mobil bak terbuka yang sedang muat wortel, kol, dan sawi… bikin hati ini mak nyesss… Kalau biasanya mata saya disuguhi "pemandangan indah" dari mahasiswi-mahasiswi yang lagi pamer keseksiannya (itu anugrah Tuhan buat saya, jangan pada ngiri… hihihi), kali ini mata saya dipuaskan dengan puncak gunung Telomoyo (yang dulu pernah saya kunjungi naik motor bareng anak-anak Pemuda GKI Peterongan… 24 motor kalau nggak salah) yang bersih dari awan. What a colourfull life !

Memasuki kawasan Kopeng, terasa sepi. Maklum, itu hari kamis. Tapi seiring laju motor yang meliuk-liuk mengikuti tikungan, mata saya sempat menangkap beberapa papan bertuliskan "Strawberry Farm" di pinggir jalan. Dalam hati saya berkata, "Nanti aku akan mampir". Tak lama, jalanan mulai menurun. Kopeng sudah di belakang punggung saya. Tiba-tiba… waks… bensin saya mau habis ! Wah… tadi kok nggak ngisi bensin dulu waktu berangkat ? Mana jalannya makin sepi dari rumah penduduk lagi. Saya mulai ketar-ketir. Kalau kehabisan bensin di sini, bisa lucu nih. Mau didorong balik ke Kopeng (trus di-gelondorin ke Salatiga) kok jalannya nanjak banget. Kalau di-gelondorin ke arah Magelang, kok ya jauh banget. Saat lagi mikir-mikir itu, saya melihat ada pompa bensin sederhana di pinggir jalan. Saya lihat, "Premium". Wah… selamat… selamat… hati saya bersorak. Badan kurus gini, disuruh dorong motor ? Bukannya motor diciptakan untuk dinaikin, bukan didorong ?? hihihi… "Isi penuh ya pak" kata saya kepada penjual bensin. Saya buka dompet, gila… saya lupa ambil duit di ATM. Di dompet cuma ada 16 ribu. Saya isi bensin 5 ribu, sambil bertanya jalan ke arah Ketep. Rupanya saya sudah dekat dengar pertigaan ke arah Ketep Pass.

Motor melaju lagi, kali ini dengan jalanan yang lebih ekstrim… naik… turun… belokan tajam… dan…. sungai yang airnya beniiing…. Kebiasaan lama, kalau lihat sungai yang airnya bening, saya pasti cuci muka… dan agak masuk ke semak-semak… pipis…. hehehe… Jalanan dari pertigaan itu ke Ketep sangat menawan. Rupanya saya sedang merayap di punggung gunung Merbabu. Kayaknya jalanan macam begini paling enak dilewati pakai motor or jip yang terbuka deh. Sinar matahari yang cerah, hangat, dan 2 puncak gunung yang cukup melegenda (Merbabu dan Merapi) mulai muncul di balik punggung gunung. Wuuaaaahhh…. 2 gunung ini sangat bertolak belakang. Gunung Merbabu yang sedang saya rayapi ini (bahasanya…) sangat hijau dan sejuk. Tapi puncak Merapi di depan saya sangat gersang ! Separoh badan gunung ditutupi pasir… dan puncaknya mengeluarkan asap tebal… Setelah sampai di gardu pandang, saya kurang begitu suka. Terlalu banyak anak sekolah yang lagi berlibur dan bus-bus mereka bikin gunung ini tambah ruwet.

Saya balik arah dan parkir di sebuah warung kecil, yang menurut saya lebih strategis dari gardu pandang. Bayangkan saja, sambil menikmati Coffemix hangat dan Indomie rebus (si Ibu cuma jual itu thok), saya dapat menikmati "lukisan alam" di depan mata saya. Saking terpesonanya, saya sampai berpikir, "Kok Tuhan ini aneh-aneh aja ya kalau mau nggambar ? Bukannya pasir tempatnya di pantai… kok kali ini DIA nggambar pasir di puncak gunung… ?" hihihi.

Puas menikmati gunung kembar itu (yang satu masih sehat, yang satu udah kena kanker… hihihi), saya balik arah pulang ke arah Kopeng. Seperti janji saya tadi, saya mampir ke strawberry farm. Tapi saya milih yang masuk ke dalam desa, bukan yang di pinggir jalan. Pertimbangan saya, yang di pinggir jalan pasti sering jual mahal. Benar saja, di strawberry farm yang saya kunjungi, sangat sepi. Tapi si Penjaga sangat ramah. Saya membayar 6 ribu untuk 1 ons strawberry segar yang petik sendiri dari pohonnya (ada 7000 pohon) plus bonus ngobrol-ngobrol sambil cumut-cumut strawberry segar. Saya jadi ingat kebun strawberry yang pernah saya lewati di puncak gunung Lawu di Tawangmangu. Kayaknya buah di openg ini lebih gede yang di Lawu. Kata Bapak penjaga, itu karena buah strawberry yang di Kopeng ini bibitnya import. Si empunya adalah pengusaha sirop dari Jogja.

Setelah puas, saya langsung tancap gas ke Salatiga, trus bablas ke Semarang. Puas sudah perjalanan hari ini.

Eh… kemarin waktu jemput istri di sekolah, saya ketemu suami teman istri saya yang hobi mancing. Dan kebetulan, saya juga hoby banget mancing. Rencananya kita mau mancing di laut dan sewa perahu. Tunggu ceritanya ya… pasti seru. Saya bisa lihat "lukisan tangan Tuhan" yang lainnya. GBU !!!!

Comments (1) »

Sweetest words I ever heard

Wednesday, July 20, 2005

It was dark when I parked my motorbike in the garage last night. Hungry… tired… and ugh… I need massage treatments :)
A bag of rice placed in the storage, and brrr… cold water freshed my body.
After cleaned and washed my body, gave a kiss to my little daughter, a bowl of "nasi padang" ready to rush by hungry-man.
Suddenly, a small voice shocked my ears… "Dady… I need to be like Dady… I’m very proud of you… and I need to be a Lecturer like you…" I can’t believe what I heard. "Oh ya ? Why you need to be like Dady ?" I asked the girl. "Because I felt your love every day… I see what you’ve done for me… and I think you’re a smart Dady… "

Hah ?! Do I look like that … ????

Comments (1) »